Dua Jemaah Haji Hilang Belum Ditemukan

Dua Jemaah Haji Hilang Belum Ditemukan

Dua Jemaah Haji Hilang Belum Ditemukan – Kedua jemaah haji hilang masih belum ditemukan hingga saat ini. Kedua jemaah haji tersebut adalah Atim Arta Ota (62) dari Embarkasi 56 Jakarta – Bekasi (JKS 56) dan Hadi Sukma Adsani (73) dari Embarkasi 37 Jakarta – Pondok Gede (JKG 37). Keduanya telah dinyatakan hilang sejak pra dan puncak musim haji awal September lalu. Pencarian jemaah haji hilang masih dilakukan.

Kedua jemaah dinyatakan hilang di tempat berbeda dan waktu berbeda. Atim Arta Ota sudah terpisah dengan rombongan sejak 15 Agustus 2017 lalu ketika melakukan ibadah di Masjidil Haram. Berbeda dengan Atim, Hadi Sukma Adsani dinyatakan hilang ketika melempar jumroh di Mina tepatnya pada 2 September 2017. Hingga saat ini belum ditemukan tanda – tanda keberadaan kedua jemaah haji ini.

Tidak hanya Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang melakukan penyisiran untuk menemukan kedua jemaah haji lansia tersebut. PPIH Daker Mekah juga dibantu berbagai pihak, termasuk kepolisian Arab Saudi, masih berusaha untuk menemukan kedua jemaah haji hilang. Hingga 29 September 2017 lalu, belum ada kabar mengenai kedua jemaah ini. Penyisiran dilakukan diberbagai tempat, mulai dari lokasi kejadian terakhir diketahui keberadaannya, rumah sakit, kantor kepolisian, hingga gunung – gunung di Arab Saudi. Salah satu jemaah haji hilang memiliki riwayat dimensia sehingga bisa terjadi kemungkinan bahwa jemaah yang bersangkutan akan mencoba mendatangi tempat – tempat yang mirip dengan tempat tinggalnya.

Selama pelaksanaan haji musim ini, setidaknya ada 383 jemaah haji yang terpisah dari rombongannya. Sejumlah 381 jemaah telah diketahui lokasi keberadaannya, sedangkan 2 jemaah ini masih dinyatakan hilang. Akibat peristiwa ini, pihak PPIH menyarankan untuk penyelenggaraan haji tahun depan difasilitasi dengan chip yang ditanamkan pada gelang haji, khususnya bagi jemaah yang berpotensi terpisah dari rombongannya. Dengan adanya chip tersebut, semoga dapat meminimalkan kejadian seperti ini karena keberadaan jemaah haji bisa terlacak dari chip tersebut.

Tidak hanya jemaah yang hilang, panitia haji juga mengurus beberapa pelayanan terkait jemaah haji yang wafat di Arab Saudi selama menunaikan ibadah haji tahu 1438 H. Total jemaah haji wafat hingga 29 September 2017 mencapai 630 jemaah dengan rincian 25 jemaah haji merupakan jemaah haji khusus. Setiap jemaah haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci memiliki asuransi jiwa selama melakukan proses ibadah haji. Seluruh jemaah haji telah melakukan pembayaran premi sebesar 50  ribu rupiah per jemaah sebelum berangkat ke Arab Saudi. Ahli waris jemaah haji yang dinyatakan wafat mendapatkan asuransi sebesar Rp 15.100.000 rupiah. Setiap premi yang telah dibayarkan oleh jemaah haji untuk asuransi dibayarkan ke Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH).

Asuransi berupa asuransi jemaah wafat, asuransi jemaah yang terkena musibah dan termasuk asuransi yang diberikan kepada jemaah haji yang terkena musibah hingga cacat tetap. Sebanyak 630 jemaah haji Indonesia telah diterbitkan Certificate of Death (COD) oleh Pemerintah Arab Saudi, sehingga seluruh ahli waris ke-630 jemaah tersebut berhak atas asuransi yang nantinya akan dicairkan.

Pihak Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) akan memfasilitasi dalam kepengurusan pengajuan klaim asuransi jemaah wafat. Nantinya setelah pencairan akan langsung diteruskan ke rekening jemaah haji yang kemudian dapat dicairkan oleh pihak ahli waris jemaah. Dengan dilakukan kepengurusan secara kolektif akan lebih memudahkan ahli waris dalam proses pencairan dana asuransinya. Disamping itu, pengurusan klaim akan lebih cepat selesai jika diurus sekaligus. Pencairan biasanya dijadwalkan satu bulan setelah proses pengajuan klaim selesai. Adapun alasan lainnya untuk menghindari adanya oknum yang menyalahgunakan wewenang sehingga kepengurusan klaim dilakukan secara kolektif. Banyaknya data yang perlu dipenuhi guna pengajuan klaim membuat beberapa ahli waris tidak mau mencairkan dana asuransi yang telah menjadi hak mereka. Oleh sebab itu sejak tahun lalu kepengurusan dana asuransi telah dilakukan secara kolektif agar lebih cepat dan aman.

 

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat – Setelah sebelumnya 23 jemaah haji telah positif terjangkit diare di Madinah, saat ini kasus serupa kembali terjadi dan memakan korban hingga 65 orang. Pada peristiwa ini, jemaah haji yang terindikasi penyakit diare adalah Jemaah haji kloter 55 Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 55).

Ilustrasi

Sejumalah jemaah haji mengalami keluhan diare sejak Minggu 24 September 2017, sedangkan 20 jemaah haji lainnya mengalami hal serupa pada keesokan harinya. Penanganan medis telah diberikan kepada jemaah yang mengalami keluhan. Beberapa diantaranya dilarikan ke Tim Gerak Cepat (TGC) sektor satu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan sebagian lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Penanganan pertama yang diberikan kepada jemaah haji adalah pemberian oralit dan suplai air minum yang banyak untuk menghindari kondisi tubuh mengalami dehidrasi.

Kondisi para Jemaah telah membaik keesokan harinya. Hingga Selasa (26/09), sebagian besar jemaah haji sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Pada Rabu (27/09), semua Jemaah terserang diare telah dinyatakan pulih total.

Tidak jauh berbeda dengan kasus diare sebelumnya yang juga terjadi di Madinah, masalah utama yang menyebabkan wabah ini adalah kondisi makanan. Menurut Amin Handoyo, Kepala Daerah Kerja Mekah, mereka terjangkit penyakit melalui makanan yang dikonsumsi, bisa dari katering atau makanan lainnya. Walaupun sempat beredar rumor bahwa faktor utama penybab diare adalah makanan katering yang dikonsumsi oleh jemaah haji, namun pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi belum bisa memastikan kebenarannya. Pasalnya makanan katering yang telah disewa oleh pihak PPIH tidak hanya menyediakan konsumsi untuk satu kloter saja melainkan beberapa kloter lainnya.

Katering yang melayani kloter JKG 55 adalah Ad-Dakhil (Black Stone) dan juga melayani 11 kloter lainnya. Kloter JKG 52 yang tinggal satu hotel dengan JKG 55 juga termasuk kedalam daftar yang dilayani pengusaha katering Ad – Dakhil. Katering Ad-Dakhil melayani sekitar 4000 – 5000 jemaah haji. Namun hanya jemaah haji kloter JKG 55 saja yang terjangkit diare. Oleh sebab itu masalah penyebab diare masih diselidiki.

Isu tersebut dilemahkan dengan adanya tes yang telah dilakukan oleh pihak PPIH setiap harinya. Pasalnya, setiap layanan katering yang telah dikontrak dengan PPIH pasti akan diuji kelayakannya. Tidak hanya itu, pihak PPIH juga melakukan tes dan turut mengkonsumsinya, sehingga apabila kualitas yang diberikan tidak baik seharusnya seluruh kloter dan seksi katering PPIH juga merasakan dampak yang sama.

Ada kemungkinan lain karena pola makan yang kurang disiplin yang dimiliki jemaah haji. Makanan katering yang diberikan kepada jemaah haji sebaiknya langsung dikonsumsi sesaat setelah didistribusikan. Penundaan konsumsi makanan akan berpengaruh pada kualitas makanan tersebut karena makanan yang diberikan memiliki batas tertentu untuk layak konsumsi. Hal ini sudah disampaikan oleh pihak PPIH sebelumnya, terlebih pada beberapa hari sebelumnya telah memakan korban 23 jemaah haji dengan kasus serupa. Disamping itu, penundaan konsumsi makanan juga berimbas pada kesehatan pencernaan. Pihak PPIH sudah mengatur sedemikian rupa jadwal termasuk jadwal makan agar Jemaah haji terhindar dari sakit. Oleh sebab itu, penundaan konsumsi katering bisa menjadi penyebab terjangkitnya diare pada sebagian Jemaah haji.

Faktor lingkungan juga memiliki andil dalam kasus ini. Hotel yang digunakan untuk menginap di Madinah tidak hanya diisi oleh jemaah haji Indonesia saja, melaikan terdapat pula jemaah haji dari negara lain. Perbedaan kebiasaan dan daya tahan tubuh juga memiliki pengaruh besar sehingga dapat membuat penyakit ini menyebar.

Kejadian ini membuat pihak Kementerian Kesehatan Arab Saudi melakukan pemeriksaan baik kepada perusahaan penyedia katering maupun pihak hotel. Mulau dari kebersihan, kesehatan lingkungan, hingga penilaian kualitas juga sedang dilakukan. Pihak PPIH Daker Madinah juga tidak tinggal diam. Mereka meminta pihak hotel untuk memperhatikan kebersihan lingkungan yang merupakan tanggungjawabnya.

Disisi lain, pihak KKHI mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi atas kerja keras yang telah diberikan selama musim haji 1438 H ini. Ambassador Health Awareness 1438 H telah jatuh kepada dr. Etik Retno Wiyati selaku Kepala Bidang KKHI Mekah. Adapunpenghargaan lainnya yang juga diberikan kepada KKHI atas partisipasinya dalam Program Kesehatan Haji Tahun 1438 H.

Pemberian penghargaan tersebut langsung dilakukan oleh Muneera Khaled Balahmar selaku Chief of Health Awarness Ambassador Program in Haj Ambassador Helath Awareness kepada dr. Etik Retno Wiyati pada Selasa 26 September 2017. Lalu pada penghargaan kedua diberikan langsung oleh dr. Musthafa bin Jamil Baljun selaku Dirjen Pelayanan Kesehatan Daerah Kerja Mekah kepada dr. Mezan selaku Kepala Seksi KKHI Daerah Kerja Mekah. Acara tersebut diselenggarakan di Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

KKHI berhak menerima penghargaan tersebut karena telah memberikan totalitas dalam penanganan kesehatan Jemaah haji musim ini. Beberapa program yang diberikan apresiasi antara lain kegiatan promotif preventif oleh Tim Promotif Preventif, pelayanan kuratif di KKHI dan pelayanan gerak cepat di lapangan.

Bagaimana Hukum Pengambilan Batu Selain Di Muzdalifah?

Bagaimana Hukum Pengambilan Batu Selain Di Muzdalifah?

Pada rangkaian puncak haji, tentunya banyak pertanyaan mengenai batu yang digunakan dalam pelontaran jumroh. Banyaknya jemaah haji yang datang setiap tahunnya dengan pertambahan batu di Muzdalifah tentunya tidak sebanding. Setiap tahunnya, jutaan jemaah datang ke Baitullah untuk melangsungkan ibadah haji. Bagi jemaah haji yang melakukan nafar awal dibutuhkan kurang lebih 49 buah batu per orang, sedangkan bagi yang nafar tsani dibutuhkan 70 batu per orang. Lantas bagaimana hukumnya jika batu yang digunaka bukan berasal dari Muzdalifah?

Banyak ulama yang berpendapat batu yang digunakan harus dari Muzdalifah. Rasulullah memberikan teladan bahwa beliau mengambil batu di tanah Muzdalifah dan melakukan mabit di tempat tersebut hingga Subuh lalu melanjutkan perjalanan menuju Mina. Setelah sampai di Mina, beliau melakukan pelontaran jumroh. Apa yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW merupakan teladan yang paling utama atau dapat dikatakan afdolnya seperti itu.

Namun terdapat pendapat ulama lainnya yakni diperbolehkan untuk menggunakan batu di wilayah masya’ir. Yang dimaksud dengan wilayah masya’ir adalah wilayah Arafah, Mina, dan tanah haram Mekah. Batu diwilayah tersebut boleh digunakan dalam melakukan pelotaran jumroh.

Pada kenyataannya, sejak jemaah sampai di Muzdalifah situasi disana sangat ramai dan peuh. Bahkan tidak jarang waktu untuk melakukan pengambilan batu tidak memungkinkan karena banyaknya orang yang ada di tempat itu. Oleh sebab itu diperbolehkan bagi jemaah untuk menggunakan batu yang diambil dari wilayah masya’ir tersebut. Bahkan bagi orang yang melontar jumroh menggunakan batu disekitar tempat pelontaran diperbolehkan. Namun perlu dipahami, untuk batu yang sudah digunakan untuk melontar atau yang berada di bak pelontaran tidak boleh digunakan. Sama halnnya dengan batu yang diambil diluar wilayah masya’ir, terlebih dari tanah air, juga tidak boleh digunakan untuk melontar.

 

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Ini 7 Alasan Bagi Anda Yang Masih Muda Untuk Segera Mengunjungi Tanah Suci

Ini 7 Alasan Bagi Anda Yang Masih Muda Untuk Segera Mengunjungi Tanah Suci – Bagi sebagian besar anak muda menganggap berkunjung ke tanah suci identik dengan masa tua. Berkunjung ke tanah suci sering luput dijadikan kategori destinasi impian semasa muda, dijadikan prioritas kesekian untuk dikunjungi setelah traveling ke tempat-tempat impian lain di seluruh dunia.

  1. Ke Tanah Suci bukan Cuma soal Niat, tapi juga Stamina yang kuat

Masa muda adalah masa-masa produktif bagi setiap orang. Stamina dan tenaga pun masih kuat. Perjalanan ke tanah suci bukan hanya soal niat dan ibadah saja. Perjalanan dari Indonesia ke Mekkah dan ke Madinah cukup panjang dan menguras tenaga. Faktor iklim yang berbeda antara iklim di Indonesia dengan iklim di Arab Saudi juga menjadi kendala. Cuaca yang sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari memerlukan daya tahan tubuh dan stamina yang kuat untuk melaluinya. Runtutan rukun-rukun ibadah (haji dan umroh) juga membutuhkan stamina yang kuat karena merupakan ibadah yang memerlukan ketahanan fisik, seperti bolak-balik Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali ketika Sa’i, mengelilingi Ka’bah ketika Thawaf, belum lagi harus berdesak-desakan demi menyentuh dan mencium Hajar Aswat. Dengan stamina yang masih melimpah dan semangat khas anak muda akan membuat ibadah terasa lebih mudah.

 

  1. Tenagamu dapat membantu orang lain

Usia muda tentunya memiliki konsidi tubuh yang prima. Keuntungan ini akan membuka lebih banyak kesempatan untuk melakukan amalan-amalan ringan, seperti membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Akan sering kamu temui orang-orang berumur di tanah suci yang memiliki semangat beribadah tinggi. Pada umumnya, kondisi mereka tidak lagi fit untuk menjalankan rukun-rukun ibadah yang berupa kegiatan fisik seperti sa’i dan thawaf. Kamu yang masih sehat dan prima bisa menyalurkan energi positifmu dengan mambantu mereka.

 

  1. Saat yang tepat menentukan pilihan jalan hidup

Masa muda tentunya memiliki banyak keinginan dan ambisi. Masa depan hanya Allah SWT yang tahu. Masa depan yang baik akan terus menjadi harapan bagi setiap umat. Berdoa kepada Allah SWT langsung di Baitullah dapat kamu lakukan untuk memperoleh ketenangan hati dan mencurahkan segala harapanmu. Di baitullah kamu dapat berdoa di depan Ka’bah dan menyentuh Hajar Aswad yang dipercaya sebagai tempat maqbul untuk berdoa.

 

  1. Galau soal jodoh? Kunjungi Jabal Rahmah

Di masa muda, hal yang paling membuat bimbang hati adalah perkara jodoh. Tentunya setiap insan ingin segera mendapatkan jodoh yang bisa setia mendampingi. Nah, pergi ke tanah suci adalah upaya terbaik untuk memohon perkara jodoh. Kamu dapat berdoa kepada Allah SWT meminta jodoh yang terbaik di Jabal Rahmah. Jabal Rahmah merupakan sebuauh bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Nabi Adam As dan Siti Hawa di muka bumi.

Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam a.s dengan Siti Hawa (credit : nasional.news.viva.co.id)

  1. Kamu bisa melihat contoh nyata konsistensi ibadah setiap hari di Tanah Suci

Kamu akan mendapatkan banyak ilmu dalam perjalananmu di tanah suci. Disana, keimanan seorang muslim dapat tercermin dari setiap kegiatannya sehari-hari. Contoh yang paling mudah ditemui yaitu pedagang-pedagang di tanah suci akan menutup tokonya dan meninggalkan barang dagangannya untuk sementara pada setiap adzan shalat berkumandang. Hal ini menunjukkan bahwa setiap rejeki adalah dari Allah, dan akan berkembang selama tidak meninggalkan perintah Allah.

 

  1. Perubahan positif akan kamu alami

Perjalananmu di tanah suci akan semakin membuatmu sadar bahwa manusia adalah setitik kecil yang tidak ada apa-apanya dari luasnya ciptaan Allah. Kamu akan semakin bijaksana dalam menyikapi hidup dan pilihan-pilihan hidup.

 

  1. Buat masa mudamu lebih bermanfaat

Masa muda penuh dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Mayoritas anak muda gemar akan petualangan. Dengan berpetualang ke tanah suci, kamu akan mendapatkan lebih banyak manfaat. Tidak hanya beribadah, namun juga mengunjungi lokasi-lokasi yang penuh sejarah perjuangan Islam.

 

Dari penjelasan diatas, semoga memberikan motivasi lebih bagi Anda untuk menyegerakan melakukan ibadah haji. 🙂

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Amalan Ringan Saat Haji dan Umroh

Amalan Ringan Saat Haji dan Umroh – Siapakan umat muslim yang tidak berkeinginan untuk mengunjungi Baitullah ? Tentunya tidak ada. Berkunjung ke tanah suci menjadi keinginan dan cita-cita bagi setiap umat muslim yang  ada di muka bumi. Kerinduan akan Baitullah salah satunya dipenuhi melalui ibadah haji dan umroh. Kedua ibadah ini bersifat wajib bagi umat muslim yang mampu, mampu baik dari fisik dan finansialnya. Haji dan umroh merupakan ibadah yang memerlukan fisik sehat dalam pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji maupun umroh, setiap jamaah tentunya mengharap sebanyak-banyaknya pahala dan keridhoan dari Allah SWT.

Amalan Ringan saat Beribadah di Tanah Suci
(Credit : http://aboutislam.net)

Nah, berikut merupakan amalan-amalan ringan yang dapat Anda lakukan saat melakukan Ibadah Haji dan Umroh.

  • Selalu menebarkan senyum terhadap sesama
  • Selalu mengucapkan salam kepada orang lain
  • Saling berjabat tangan ketika bertemu orang lain, tentunya bagi sesama muhrim
  • Tanyakan keadaan orang lain, misalnya bagaimana kesehatannya
  • Selalu ramah terhadap orang lain
  • Tawarkan minum kepada orang lain
  • Perhatikan sekitar, apakah ada orang yang memerlukan bantuan
  • Fokus selalu menbantu orang lain
  • Bantulah jamaah yang sudah tua untuk membawakan tas mereka, maupun jamaah lainnya yang membutuhkan bantuan
  • Jalin silaturahmi antar jamaah haji/ umroh, baik dari kelompok Anda maupun kelompok lain
  • Bantulah orang yang sakit, dengan memberi obat
  • Antarkan orang yang sakit ke tempat pengobatan
  • Berdoalah kepada Allah SWT di setiap kesempatan
  • Selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada Anda
  • Selalu mengucap syukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan hamdalah
  • Selalu mengharapkan ridha Allah atas apa yang Anda perbuat di tanah suci
  • Ucapkan selalu Asmaul Husna
  • Ucapkan kalimat talbiyah dengan suara keras
  • Perhatikan dan tanyakan kesehatan orang tua di sekitar Anda
  • Puji orang yang berbuat baik
  • Maafkan kesalahan orang lain yang pernah mereka lakukankepada Anda, dan doakan mereka
  • Ingatlah setiap kebaikan orang lain kepada Anda, dan doakan mereka
  • Doakan teman-teman atau kerabat
  • Bersedekah pada mereka yang membutuhkan
  • Ucapkan “Laa illaaha illalah, wahdahu laa syariikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli shay’iin qadiir” sebanyak 100 kali
  • Selalu ingat siksa api neraka
  • Bacalah doa ketika masuk tempat belanja
  • Bantulah orang lain untuk mendapatkan minum
  • Bantulah orang lain untuk mendapatkan tempat tidur
  • Bantulah orang lain untuk membawa barangnya
  • Jangan biarkan terjadi pertengkaran diantara sesama muslim
  • Selalu mengingatkan orang lain untuk kebaikan
  • Selalu ingatkan orang lain untuk bersabar
  • Selalu ingatkan orang lain tentang kehidupan para nabi dan sahabat
  • Bimbinglah orang-orang (terutama orang tua) dalam melempar jumroh
  • Bimbinglah orang-orang (terutama orang tua) dalam melaksanakan tiap rukun haji / umroh
  • Bacalah Al-Qur’an dan tafsirnya
  • Tundukkan pandangan pada lawan jenis
  • Berikan batu – batu kecil  pada mereka yang belum mendapaatkannya untuk melempar jumroh
  • Bantulah orang lain untuk melempar jumroh, atas nama mereka
  • Perbanyak pembicaraan ke arah kebaikan dengan jamaah haji lain, baik dari kelompok Anda maupun kelompok lain
  • Hindari pembicaraan sia-sia
  • Hadiri kajian-kajian keagamaan yang diberikan
  • Khusus laki – laki, tawarkan wewangian pada orang lain disekitar Anda saat Hari Raya Idul Adha
  • Perbanyak ucapan dengan doa dan dzikir

 

Semoga dengan amalan-amalan ringan tersebut  dapat menambah pahala dan keimanan bagi Anda serta diterima ibadah Anda oleh Allah SWT.

×