Keuntungan Kloter Akhir Haji, Ibadah Haji, Travel Haji, Travel Umroh

Keuntungan Kloter Akhir Haji, Ibadah Haji, Travel Haji, Travel Umroh

Pada setiap musim haji, ratusan ribu calon jemaah haji Indonesia diberangkatkan menuju Arab Saudi melalui Jeddah ataupun Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Jemaah haji yang diturunkan melalui bandara King Abdul Aziz, Jeddah, akan langsung diantarkan ke Mekah sebelum memasuki puncak haji. Sebaliknya, jemaah yang diturunkan melalui bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz biasanya akan transit dahulu di Madinah. Kedua bandara internasional tersebut dipadati jemaah haji dari berbagai negara pada musim haji. Oleh karena itu, Indonesia sebagai  negara dengan penyumbang jemaah haji terbanyak membagi pemberangkatan dengan sistem kloter dan gelombang.

Sistem Pembagian Kloter dan Gelombang Keberangkatan Haji

Sistem kloter dan gelombang dibuat untuk mempermudah dalam pengelolaan layanan ibadah haji. Sejak di Indonesia, jemaah haji sudah terbagi menjadi ratusan kloter yang dibedakan dari asal daerah pemberangkatan. Selain mengandung informasi daerah asal, terdapat sistem penomoran kloter sebagai urutan dalam pemberangkatan dan pemulangan. Setiap kloter diisi oleh 360 hingga 455 jemaah haji serta didampingi 5 petugas yang menemani keberangkatan hingga ke Arab Saudi. Pada musim haji tahun 1438 H lalu, jemaah haji Indonesia telah terbagi menjadi 512 kloter. Karena banyaknya kloter yang diberangkatnya, maka kloter akan dikelompokkan kembali berdasarkan jadwal keberangkatannya.

Sistem gelombang membedakan jadwal keberangkatan dan lokasi pemberangkatan. Terdapat dua gelombang yang digunakan oleh jemaah haji Indonesia regular yaitu gelombang pertama dan kedua. Untuk gelombang pertama, keberangkatan akan mendapatkan jadwal lebih awal mulai dari tiga minggu sebelum puncak haji. Gelombang pertama akan diturunkan melalui Madinah dan akan tinggal di Madinah 7 – 8 hari sebelum akhirnya diberangkatkan ke Makah untuk melakukan thawaf dan sa’i. Selama tinggal di Madinah, jemaah haji gelombang pertama akan melakukan ibadah Arbain terlebih dahulu kemudian berangsur berpindah ke Mekah sesuai urutan kedatangan di Madiah sebelumnya. Ibadah Arbain yang dimaksud adalah ibadah sholat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu berturut – turut. Selanjutnya jemaah haji akan melakukan rangkaian kegiatan haji hingga puncak haji selesai dan akan langsung kembali ke Tanah Air.

Berbeda untuk gelombang kedua, mereka diturunkan melalui Jeddah dan langsung diberangkatkkan ke Mekah. Jangan khawatir bagi jemaah yang diberangkatkan melalui Jeddah karena nanti akan ada pergerakan kembali ke Madinah setelah puncak haji telah selesai. Terdapat kloter akhir haji yang diberangkatkan dari Mekah menuju Madinah. Pasalnya pergerakan gelombang kedua ke Madinah dilakukan secara bertahap mulai dari hari tasyriq ketiga dan setiap kloter memiliki waktu singgah di Madinah selama 7 – 8 hari dan kemudian akan langsung dipulangkan ke Indonesia melalui Madinah.

Baik gelombang pertama ataupun kedua, layanan fasilitas dan kegiatan yang diperoleh sama hanya saja waktu dan lokasinya yang berkebalikan. Bagi gelombang pertama, penurunan jemaah di Madinah dan kembali melalui Jeddah, sehingga masa tinggal di Madinah terletak di awal perjalanan. Berkebalikan dengan gelombang kedua yang diberangkatkan menuju Jeddah  dan kembali melalui Madinah sehingga masa tinggal di Madinah terletak di penghujung perjalanan haji. Namun keduanya memiliki proporsi waktu tinggal di Arab Saudi sama yaitu 40 hari. Bagi jemaah yang datang lebih dahulu akan dipulangkan terlebih dahulu pula.

Keuntungan Kloter Akhir Diberangkatkan

Bagi kloter akhir gelombang kedua akan diberangkatkan terakhir ke Madinah sehingga waktu di Mekah pasca haji menjadi lebih lama beberapa hari. Tinggal di Mekah lebih lama dapat digunakan untuk beribadah sebanyak – banyaknya di Masjidil Haram. Bagi seluruh jemaah haji, pastinya akan menggunakan waktu sebaik – baiknya selama berada di Tanah Suci sehingga jika waktu lebih banyak diperoleh di Mekah, gunakan untuk beribadah di Masjidil Haram yang suci. Banyak sekali tempat – tempat di Masjidil Haram yang mustajab untuk berdoa.

Keuntungan lainnya adalah ibadah yang dilakukan lebih khusyu dan tidak terburu – buru. Pasalanya waktu tinggal di Tanah Suci gelombang kedua khususnya kloter akhir akan lebih banyak pada pasca Armina atau saat rangkaian haji berada di penghujung musim. Hal ini menyembabkan rasa lega yang akan dirasakan pada kloter akhir karena rangkaian prosesi ibadah haji telah selesai dilakukan.

Disamping itu keuntungan lainnya adalah suasana di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang relatif lebih sepi dibandingkan saat pra atau puncak haji. Sebagian jemaah haji dari berbagai negara telah dipulangkan secara berangsur setelah pucak haji selesai. Hal ini tentunya menguntungkan bagi jemaah kloter akhir untuk melakukan ibadah baik di Masjidil Haram ataupun di Masjid Nabawi. Walapun tidak menutup kemungkinan pengunjung di kedua masjid tersebut benar-benar lenggang, namun keramaian jemaah di keduanya tidak seramai saat puncak haji lalu.

Lepas dari semua keutungan bagi gelombang kedua akhir yang menunaikan ibadah haji, adapaun beberapa kondisi dimana jemaah harus lebih mempersiapkan diri. Fasilitas yang diberikan panitia ibadah haji Indonesia telah menarik beberapa layanan beberapa minggu pasca puncak haji selesai. Seperti layanan bus shalawat yang diberikan untuk memfasilitasi jemaah dari pemondokan hingga Masjidil Haram telah dihentikan mengingat jemaah haji yang masih tinggal di Mekah sudah jauh berkurang. Oleh karenanya bagi jemaah haji yang tinggal di Mekah lebih lama dan layanan bus sudah dihentikan, baiknya membiasakan diri untuk berjalan kaki.

Semoga ulasan diatas memberikan gambaran bagi calon jemaah haji untuk mempersiapkan diri dalam melakukan perjalanan haji nantinya. Persiapan juga dapat dilakukan dengan melakukan konsultasi kepada pihak travel haji ataupun travel umroh yang bertanggungjawab atas keberangkatan calon jemaah haji. Jangan sungkan untuk menanyakan hal semendetail mungkin untuk menjamin kelancaran ibadah kita. Semoga artikel ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh mengunjungi PPIH – Pada 19 September 2017 lalu, pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kedatangan tamu dari Tim Tabung Haji Malaysia. Pertemuan rutin beberapa tahun belakangan ini yang selalu dilaksanakan menjelang fase akhir ibadah haji ini di gelar di Kantor PPIH Daerah Kerja Mekah. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Sri Ilham Lubis selaku Direktur Layanan Haji Luar Negeri, Ahmad Jauhari selaku Staf Teknis 3 Kantor Urusan Haji, Nasrullah Jasam selaku Kepala Daerah Kerja Mekah, dan para Kepala Seksi Layanan dari Daerah Kerja Mekah. Dari pihak Tim Tabung Haji Malaysia dipimpin oleh Datuk Syed Saleh Syed Abdur Rahman selaku Ketua Rombongan serta didampingi para pengarah operasional yang setara dengan Kepala Daker dan Kepala Bidang Layanan.

Pertemuan ini bertujuan untuk silaturahmi dan melakukan sharing pengalaman selama menjalankan tugas sebagai panitia penyelenggara haji di negara masing – masing. Disamping itu, Syeh Saleh juga mengutarakan bahwa Malaysia dan Indonesia masih satu rumpun sehingga profil jemaah haji Malaysia dengan Indonesia tidak berbeda jauh. Yang dimaksudkan dengan profil jemaah haji antara lain dari segi usia, pendidikan, dan profesi. Ia juga menambahkan bahwa kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada Malaysia hanya 30.200 dengan durasi tinggal di Arab Saudi selama 45 – 55 hari. Tentunya jumlah tersebut masih jauh dibawah jumlah kuota yang di berikan kepada Indonesia.

Ada pertemuan tersebut, secara garis besar adalah sharing dimana pihak Malaysia ingin mengetahui pengelolaan yang telah dilakukan PPIH mulai dari persiapan, manasik, hingga pelaksanaan ibadah haji dengan kuota jemaah yang sangat banyak. Sri Ilham menjawab pertanyaan pihak Tim Tabung Haji Malaysia mengenai hal tersebut mulai dari pemaparan data jemaah haji Indonesia hingga manajemen operasional haji Indonesia. Pada tahun ini kuota jemaah haji Indonesia telah kembali normal pada angka 211.000 jemaah, namun pihak Arab Saudi memberikan tambahan 10.000 kuota sehingga total yang diberangkatkan pada tahun ini mencapai 221.000 jemaah.

Tidak lupa Sri Ilham juga menambahkan bahwa manajemen juga dibentuk sejak sebelum diberangkatkan. Jemaah haji Indonesia diorganisir dengan membentuk sistem kloter dan struktur petugas. Dalam satu kloter terdiri dari 360 – 455 jemaah haji yang didampingi oleh 5 orang petugas. Tim petugas yang dimaksud terdiri dari 1 orang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), 1 orang Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), dan 3 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Disamping itu Sri Ilham juga menjelaskan layanan apa saja yang jemaah haji Indonesia peroleh selama melaksanakan ibadah haji, antara lain layanan akomodasi, transportasi, dan katering.

Berdasarkan hasil berbagi pengalaman yang telah dilakukan, PPIH juga mendapatkan banyak informasi mengenai kondisi jemaah haji Malaysia. Pasalnya jumlah jemaah haji Malaysia jauh lebih sedikit sehingga pembagian kloternya juga hanya menjadi 100 lebih dengan jumlah jemaah haji 250 orang per kloter. Setiap kloter Malaysia tidak didampingi petugas selama perjalanan ke Arab Saudi, dan petugas baru bergabung setelah setibanya di Arab Saudi. Untuk lokasi akomodasi, karena jumlah jemaah haji Malaysia yang lebih sedikit menyebabkan penempatannya mengelompok pada jarak 900 meter dari Masjidil Haram. Pada proses manasik, jemaah haji Malaysia mendapatkan 17 kali pertemuan manasik dasar dan 2 hari intensif manasik praktik. Pada program tersebut, jemaah haji Malaysia diberikan situasi yang mencerminkan kondisi saat haji nantinya termasuk saat melakukan mabit di Mina dan Arafah. Adapun ujian yang diselenggarakan untuk memastikan penyampaian materi kepada jemaah haji Malaysia, jika terdapat jemaah haji yang belum lolos, maka akan dilakukan proses manasik kembali.

Seusainya pertemuan tersebut, mereka memanfaatkan untuk berkeliling. Tidak lupa Tim Tabung Haji Malaysia melakukan diskusi ringan sembari melanjutkan peninjauan di Kantor Daker Mekah.

Selang beberapa hari setelahnya, PPIH juga mendapatkan kunjungan kembali oleh pihak panitia misi haji dari Pakistan dan Bangladesh pada Rabu 22 September 2017 lalu. Pakistan dan Bangladesh termasuk penyumbang jemaah haji peringkat 5 besar. Pada musim haji 1438 H tahun ini, Pakistan berada diperingkat kedua yang memperoleh kuota 179.000 jemaah haji setelah Indonesia sedangkan Bangladesh mendapatkan peringkat keempat dengan kuota sebesar 129.000 jemaah haji setelah India.

Sama seperti kunjungan Malaysia sebelumnya, delegasi dari Pakistan dan Bangladesh ingin mengetahui bagaimana manajemen yang dilakukan Indonesia sebagai penyumbang jemaah haji terbanyak tahun ini untuk memberikan kualitas layanan yang baik kepada jemaahnya. Pada awal pertemuan, mereka menyempatkan diri untuk memapaparkan kondisi dan profil jemaah haji masing – masing negara.

Pertemuan ini bertujuan untuk bertukar informasi mengenai kelebihan dan kekurangan dari misi haji masing – masing negara. Dengan begitu, pelayanan tahun depan harus lebih baik lagi dan saling belajar dengan negara tetangga. Sri Ilham menuturkan bahwa persiapan penyelenggaraan haji dimulai sejak awal, sehingga pada saat penutupan operasional haji musim ini menandakan bahwa perencanaan haji musim dapat sudah dimulai.

Indonesia berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada beberapa tahun terakhir ini. Oleh karenanya dari segi akomodasi, transportasi, hingga katering juga telah dipikirkan baik – baik hingga Menteri Agama pun turun tangan mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengatur tentang layanan haji di Arab Saudi.

Sri Ilham juga menambahkan manajemen yang diberlakukan Indonesia dalam pembagian daerah kerja dan sektor. Setiap sektor telah tersedia petugas haji yang siap siaga 24 jam selama musim haji berlangsung guna memudahkan jemaah haji Indonesia jika membutuhkan bantuan.

Dari segi masa tinggal, Indonesia memiliki masa tinggal lebih pendek dari kebanyakan negara lainnya yaitu 40 hari yang diatur dengan manajemen keberangkatan dan pemulangan jemaah haji secara bertahap oleh PPIH. Sedangkan untuk Pakistan dan Bangladesh, masa tinggal hingga 45 hari.

Untuk akomodasi, Indonesia memiliki spek tertentu untuk tempat tinggal dari fasilitas, jarak dan kapasitas pemondokan yang digunakan. Pada tahun ini Indonesia membutuhkan 155 hotel dengan jarak beragam untuk menampung jemaah haji Indonesia yang sangat banyak. Sri Ilham menambahkan bahwa hotel yang terletak 1,5 km hingga 4,5 km juga difasilitasi sarana transportasi bus shalawat untuk menuju Masjidil Haram. Sedangkan Pakistan sendiri mengaku bahwa pihaknya menyewa hotel dengan jumlah 195 hotel dan jarak hingga 7 km.

Pertemuan ini berguna untuk memperbaiki sistem manajemen misi haji masing – masing negara. Diharapkan dengan kunjungan ini dapat menjadikan motivasi ketiga negara untuk memberikan layanan lebih baik lagi tahun depan dengan bercermin dari kekurangan pada tahun ini.

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat – Tinggal dalam hitungan hari bus shalawat akan berhenti beroperasi. Bus yang disediakan sebagai sarana prasarana transportasi di Mekah ini sudah mendekati tanggal terakhir pengoperasian yakni pada Selasa 26 September 2017 mendatang.

Bus Shalawat Menurunkan Jemaah Haji Indonesia (kemenag.go.id)

Bus shalawat merupakan bus yang mengantar jemput jemaah haji dari  hotel menuju Masjidil Haram selama musim haji. Bus shalawat telah dioperasikan sejak 6 Agustus 2017 lalu. Menurut Kepala Bidang Transportasi Subhan Cholid yang bertanggungjawab mengurus perihal sarana transportasi jemaah haji Indonesia selama menunaikan ibadah haji di Arab Saudi mengatakan bahwa bus shalawat telah dijadwalkan beroperasi pada 22 hari sebelum puncak haji di Armina dan 22 hari pasca Armina. Bus shalawat sendiri setiap harinya melakukan operasi 24 jam.

Bus shalawat diberhentikan pada Rabu (27/09) mendatang sesuai dengan jadwal keberangkatan terakhir jemaah haji menuju Madinah. Hingga hari ini, layanan bus shalawat tetap beroperasi walaupun sudah tampak lenggang. Bahkan pada saat subuh, bus shalawat tetap berjalan sesuai dengan jadwalnya untuk melayani jemaah haji Indonesia yang melakukan ibadah di Masjidil Haram. Petugas halte tetap berjaga seperti biasanya.

Cholid menambahkan bahwa saat ini terdapat lokasi yang masih dilayani oleh bus shalawat yaitu Aziziyah Janubiyah, Aziziyah Syimaliyah 2, Mahbas Jin, Syisyah, Syisyah Raudhah, Syisyah 1, Syisyah 2, Raudhah, Jarwal / Biban, dan Misfalah. Total keseluran jemaah yang masih dilayani bus shalawat adalah sebanyak 11.947 jemaah. Wilayah lainnya sudah kosong dikarenakan jemaah sudah diberangkatkan ke Madinah atau ke Jeddah untuk dipulangkan ke Tanah Air. Walaupun semakin hari, jemaah haji Indonesia yang menggunakan layanan bus shalawat berkurang, bus ini tetap akan beroperasi hingga semua jemaah sudah diberangkatkan beranjak dari Mekah.

Bus Shalawat (kemenag.go.id)

Pada awal pengoperasiannya hingga saat ini, bus shalawat telah memberikan kemudahan kepada jemaah haji Indonesia sehingga dapat dengan mudah mengunjungi Masjidil Haram. Terdapat 46 halte yang disediakan untuk melakukan penjemputan dari hotel menuju Masjidil Haram melalui tiga terminal yaitu terminal Jiad, Syib Amir, dan Bab Ali. Kurang lebih sebanyak 176.226 jemaah haji Indonesia telah memanfaatkan layanan bus shalawat ini.

Jumlah armada bus shalawat yang disediakan menyesuaikan dengan jumlah jemaah haji yang akan dilayani, sehingga pada waktu mendekati puncak haji dan beberapa hari setelahnya, jumlah armada yang dioperasikan lebih banyak dibandingkan saat ini. Pada puncak haji lalu, armada bus shalawat yang disediakan dan beroperasi mencapai 352 bus. Semua pengoperasian berjalan dengan lancar dan tidak terdapat masalah berarti berkat kerja keras seluruh petugas yang bertugas siang dan malam. Sekitar 175 orang petugas diberi tanggungjawab dalam menangani layanan bus shalawat ini termasuk siap siaga selama 24 jam bergantian.

Bus Shalawat Menaikkan Jemaah Haji Indonesia (kemenag.go.id)

Cholid mengimbuhkan bahwa panitia seksi transportasi memang memiliki tanggungjawab ekstra, walaupun cuaca terik menyengat dan kelelahan tidak memutuskan niat untuk memberikan layanan terbaik kepada seluruh jemaah haji Indonesia pada musim haji 1438 H ini.

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat

Kondisi Mekah Pasca Musim Haji, Katering Sudah Berhenti dan Hujan Lebat Terjadi

Kondisi Mekah Pasca Musim Haji, Katering Sudah Berhenti dan Hujan Lebat Terjadi  – Pada Senin 18 September 2017 lalu Kota Mekah diguyur hujan lebat yang disertai angin kencang. Hujan diperkirakan mulai terjadi pada pukul 16.40 waktu setempat. Hujan lebat tersebut berlangsung cukup lama hingga lebih dari 25 menit.

Mekah hujan

Setelah suhu panas menerpa Kota Mekah sejak awal September lalu, kali ini hujan lebat mulai terjadi. Sejak Senin sore hingga pukul 17.15, guyuran air hujan mulai reda. Selama hujan berlangsung, tiupan angin kencang turut serta mengiringi hingga menggoyahkan pepohonan di Kota Mekah. Kejadian tersebut tidak serta merta membuat jalanan Kota Mekah sepi, melainkan tetap ramai seperti biasanya.

Disisi lain pada hari yang sama, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Mekah telah mengumumkan penutupan layanan katering bagi jemaah haji. Pada hari Minggu (17/09) telah didistribusikan sebanyak 12.318 nasi kotak kepada jemaah haji yang masih tinggal di Mekah. Porsi tersebut didistribusikan untuk memenuhi layanan katering siang dan malam pada itu juga.

Jumlah keseluruhan layanan yang telah diberikan petugas PPIH kepada jamaah adalah 3.559.366 box nasi kotak yang telah didistribusikan kepada 499 kloter jemaah haji Indonesia. Pendistribusian juga dibagi menjadi dua gelombang yakni gelombang pra Armina dan gelombang pasca Armina. Pada gelombang pra Armina telah didistribusikan sejumlah 2.247.594 box sedangkan pada pasca Armina sebanyak 1.311.772 box. Layanan pasca Armina kembai aktif sejak tanggal 6 September 2017 dan selesai pada 17 September 2017 lalu. Setiap jemaah haji Indonesia memiliki hak untuk mendapatkan layanan katering sebanyak 25 kali.

Evy Nuryana, Kasi Katering Daker Mekah, memberikan penjelasan bahwa kendala paling krusial selama menjadi penanggungjawab layanan katering jemaah haji Indonesia adalah permasalahan keterlambatan distribusi kepada jemaah. Telah dikeluhkan sebelumnya saat puncak musim haji lalu, banyak distribusi layanan katering terlambat sampai kepada jemaah. Hal ini disebabkan karena padatnya lalu lintas di Armina dan ditambah dengan buka tutup ruas jalan sehingga menambah kemacetan.

Sebelumnya, pihak PPIH juga telah mengadakan meeting evaluasi dengan layanan katering yang bekerjasama dengan PPIH. Pada pertemuan tersebut, pihak PPIH memberikan peringatan keras kepada seluruh perusahaan untuk memenuhi kinerja sesuai dengan yang tertulis pada kontrak. Bahkan pihak PPIH pun tidak segan – segan memutuskan hubungan kerja apabila perusahaan katering diketahui melakukan pelanggaran.

Selama hampir dua minggu, tim PPIH juga melakukan quality control terhadap perusahaan katering. Tidak tanggung – tanggung, panitia melakukan sidak sejak dini hari untuk memastikan kondisi dapur, bahan makanan, cara pengolahan hingga cara penyajian yang dilakukan oleh perusahaan katering higienis dan layak konsumsi. Semua dalam pemantauan panitia untuk menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada jemaah haji Indonesia.

“Namun secara umum semuanya lancar” imbuh Evy.

Namun tidak berhenti sampai situ saja pekerjaan PPIH saat ini. Selesainya katering jemaah haji di Mekah bukan menjadi penutup pekerjaan layanan katering karena sebagian jemaah haji ada yang singgah di Madinah dahulu untuk melakukan ibadah Arbain sebelum dipulangkan ke Tanah Air. Layanan katering  berlanjut untuk jemaah yang akan diberangkatkan ke Madinah dan baru akan berakhir tanggal 26 September 2017 mendatang.

 

Jemaah Menyelundupkan Air Zamzam Berkurang Setelah Tayangan Berita

Jemaah Menyelundupkan Air Zamzam Berkurang Setelah Tayangan Berita

Sudah menginjak hari kesembilan sejak gelombang pertama jemaah haji dipulangkan ke Tanah Air melalui Jeddah. Selama itu pula banyak ditemui kasus tentang koper jemaah haji yang dibongkar saat berada di Bandara King Abdul Aziz.

Bukan menjadi berita yang mengherankan jika jemaah haji berupaya untuk membawa Air Zamzam ke kampung halaman. Sebenarnya jemaah haji memiliki bagian masing – masing Air Zamzam yang akan di bagikan setibanya di Indonesia yaitu sebanyak 5 liter per orang. Namun jumlah itu dirasa masih kurang bagi sebagian jemaah haji. Alhasil mereka yang merasa bagiannya kurang banyak, mencoba memberanikan diri dengan cara meyelundupkan Air Zamzam di dalam kopernya.

Berbagai bentuk cara untuk mengelabui petugas dilakukan. Sebagian besar telah menyembunyikan botol – botol berisi Air Zamzam pada lipatan baju, sajadah, dan bercampur dengan barang – barang lain di dalam koper guna mengelabuhi petugas bandara. Namun hal yang tidak disadari oleh jemaah adalah screening yang dilakukan adalah menggunakan X-ray, sehingga cairan dalam jumlah besar akan terlihat pada monitor pengawas. Koper yang telah diidentifikasi terdapat Air Zamzam dilakukan pembongkaran oleh petugas dan tentu saja Air Zamzam tersebut akan disita. Selain menghambat antrian, disisi jemaah haji pun hal ini menjadi lebih merepotkan karena isian koper akan menjadi berantakan.

Adanya larangan pembawaan Air Zamzam ini bukan tanpa sebab. Peraturan penerbangan telah menetapkan batasan cairan yang boleh dibawa serta saat melakukan penerbangan. Hal ini mengacu pada rekomendasi International Civil  Aviation Organization (ICAO) pada 2006 lalu mengenai potensi tindak kejahatan dan terorisme menggunakan liquid (cairan), aerosol, dan gel (jel) yang disingkat LAG. Oleh sebab itu untuk menjaga keamanan penerbangan, diberlakukan aturan ketat yang tidak memperbolehkan cairan dalam jumlah banyak masuk dalam pesawat. Batas cairan maksimum yang dapat disertakan adalah 100 ml saja. Disamping itu, untuk wadah penyimpanan  (container) yang digunakan juga maksimum 100 ml.

Mengingat banyaknya pelanggaran penyelundupan Air Zamzam yang dilakukan jemaah haji Indonesia, pihak petugas perlindungan jemaah (linjam) tidak bosan – bosannya memberikan pengarahan dan sosialisasi kepada jemaah yang masih berada di Arab Saudi. Namun upaya tersebut masih belum efektif karena masih banyak temuan jemaah yang dibongkar kopernya saat pengecekan melalui X-ray.

Beberapa hari belakangan ini masih ditemui kasus seperti itu namun sudah sangat berkurang. Menurut penuturan Rimsyahtono linjam sektor 11, penurunan kasus tersebut dipengaruhi oleh tayangan televisi. Beberapa hari telah dikabarkan melalui televisi mengenai pembongkaran koper dan screening menggunakan X-ray. Disamping itu, sebagian jemaah mengaku mendapatkan broadcast melalui sosial media mengenai hal tersebut sehingga mereka lebih memilih sesuai aturan daripada memaksakan diri menyelundupkan Air Zamzam kedalam koper.

Rimsyahtono menambahkan bahwa sosialisasi visual dirasa lebih efektif dan tepat sasaran dibandingkan sosialisasi konvensional yang selama ini diterapkan. Pasalnya pihak panitia telah berulang kali memperingatkan namun banyak yang tidak mengindahkan larangan tersebut.

Diharapkan setelah beredarnya video pembongkaran koper jemaah haji Indonesia dapat memberikan pelajaran dan peringatan bagi jemaah yang masih di Arab Saudi. Karena melanggar aturan akan menyusahkan jemaah haji sendiri dan tidak mendapatkan manfaat apapun.

×