Mengenal Macam – Macam Thawaf – Thawaf merupakan salah satu rukun dalam rangkaian ibadah haji dan umrah. Thawaf merupakan kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali. Satu putaran dihitung dari Hajar Adwad hingga Hajar Aswad kembali. Apabila dalam melakukan ibadah haji atau umrah tidak melakukan thawaf, maka hukum ibadahnya menjadi tidak sah.

Adapun beberapa syarat Thawaf, yakni sebagai berikut.

  1. Suci dari hadast (besar, kecil, dan najis)

Suci yang dimaksudkan dalam hal ini adalah suci badan maupun pakaian. Namun terdapat pengecualian seperti pada wanita yang mengeluarkan dara dari Rahim namu bukan nifas/haid melainkan karena sakit/kelainan, diperbolehkan untuk melakukan Thawaf. Adapun kelainan lainnya seperti pada orang tua yang tidak sanggup untuk menahan buang air kecil. Namun untuk perempuan yang sedang nifas/haid dilarang untuk melakukan Thawaf.

  1. Menutup aurat.
  2. Menyempurnakan Thawaf dengan melakukan 7 (tujuh) kali putaran.
  3. Tidak memotong jalan atau melalui dalam Hijr Ismail karena apabila memotong (bukan dari Hajar Aswad hingga Hajar Aswad lagi) dianggap tidak sah. Hijr Ismail termasuk dalam bagian Ka’bah.
  4. Thawaf terus menerus tanpa berhenti kecuali karena batal berwudhu diperbolehkan melanjutkan sisa putaran.
  5. Thawaf terus menerus, boleh diselingi jika sudah tiba waktu shalat fardu.

Syarat-syarat Thawaf diatas harus dipenuhi agar Thawaf menjadi sah. Disamping hal tersebut, adapun Sunnah saat melakukan Thawaf. Sunnah – Sunnah Thawaf antara lain sebagai berikut.

  1. Berwudhu sebelum melakukan Thawaf.
  2. Menghadap ke Hajar Aswad.
  3. Bagi kaum laki-laki dianjurkan untuk idhthiba, yaitu mengenakan ihram dengan cara meletakkan di tengah ketiak kanan dan pada ujung lainnya diletakkan menutup bahu kiri (bahu kanan terbuka) saat melakukan Thawaf.
  4. Melakukan raml, yaitu lari kecil-kecil pada putaran pertama Thawaf. Raml disunnahkan pada kaum laki-laki dan dilakukan pada Thawaf yang diakhiri dengan Sa’i.
  5. Mengusap sudut Rukun Yamani.
  6. Shalat Sunnah 2 (dua) rakaat di Maqam Ibrahim (diutamakan), apabila tidak memunginkan dapat dilakukan di bagian mana saja di dalam Masjidil Haram.
  7. Ketika mendekati waktu shalat fardu, maka hendaknya utamakan shalat fardu terlebih dahulu. Namun apabila Thawaf sudah dilakukan kemudian waktu telah memasuki waktu shalat fardu, hendaknya unaikan shaat fardu kemudian lanjutkan Thawaf.

Sunnah dalam melakukan Thawaf sebaiknya dilakukan untuk menambah pahala saat menunaikan ibadah haji atau umrah.

Adapun jenis-jenis Thawaf yang dilakukan saat ibadah haji atau umroh. Jenis – jenis Thawaf adalah sebagai berikut.

  1. Thawaf Qudum

Thawaf Qudum merupakan Thawaf yang dilakukan tanpa disertai dengan Sa’i. Thawaf Qudum biasa diartikan sebagai Thawaf selamat datang. Hukum Thawaf Qudum adalah Sunnah.

  1. Thawaf Ifadhah

Thawaf Ifadhah merupaka salah satu rukun haji. Ketika beribadah haji tidak melakukan Thawaf Ifadhah, maka ibadahnya tidak sempurna. Thawaf Ifadhah dilakukan setelah melempar Jumroh Aqobah (Kubra) dan setelah menyembelih hewan qurban (dilakukan pada hari Narh atau tanggal 10 Dzulhijjah). Thawaf Ifadhah juga diperbolehkan dilakukan saat hari Tasyriq maupun setelah hari Tasyriq di bulan Dzulhijjah.

  1. Thawaf Wada

Thawaf Wada merupakan Thawaf yang hukumnya wajib dan dilakukan sebelum kembali ke negara masing-masing. Thawaf Wada dilakukan tanpa mengenakan pakaian ihram. Disamping itu, Thawaf Wada dilakukan tanpa disertai Sa’i. Bagi jamaah yang meninggalkan Thawaf Wada akan dikenakan denda (Dam), tidak terkecuali bagi kaum perempuan yang sedang nifas/haid akan dikenakan dam atau kafarat.

  1. Thawaf Sunnah

Thawaf Sunnah merupakan Thawaf yang bersifat Sunnah dan dilakukan setiap kali memasuki Masjidil Haram. Thawaf Sunnah meruupakan pengganti sholat Sunnah tahiyatul masjid, oleh sebab itu dianjurkan untuk memperbanyak melakukan Thawaf Sunnah. Pada pelaksanaannya, tidak perlu menggunakan ihram, serta tidak diikuti dengan Sa’i.

Thawaf merupakan salah satu rukun haji yang perlu kita pahami keutamaannya. Pengetahuan mengenai Thawaf diperlukan terutama bagi calon jamaan yang hendak melakukan perjalanan ibadah haji ataupun umrah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan (denda) karena lalai dalam melakukan Thawaf.

×