Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh mengunjungi PPIH – Pada 19 September 2017 lalu, pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kedatangan tamu dari Tim Tabung Haji Malaysia. Pertemuan rutin beberapa tahun belakangan ini yang selalu dilaksanakan menjelang fase akhir ibadah haji ini di gelar di Kantor PPIH Daerah Kerja Mekah. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Sri Ilham Lubis selaku Direktur Layanan Haji Luar Negeri, Ahmad Jauhari selaku Staf Teknis 3 Kantor Urusan Haji, Nasrullah Jasam selaku Kepala Daerah Kerja Mekah, dan para Kepala Seksi Layanan dari Daerah Kerja Mekah. Dari pihak Tim Tabung Haji Malaysia dipimpin oleh Datuk Syed Saleh Syed Abdur Rahman selaku Ketua Rombongan serta didampingi para pengarah operasional yang setara dengan Kepala Daker dan Kepala Bidang Layanan.

Pertemuan ini bertujuan untuk silaturahmi dan melakukan sharing pengalaman selama menjalankan tugas sebagai panitia penyelenggara haji di negara masing – masing. Disamping itu, Syeh Saleh juga mengutarakan bahwa Malaysia dan Indonesia masih satu rumpun sehingga profil jemaah haji Malaysia dengan Indonesia tidak berbeda jauh. Yang dimaksudkan dengan profil jemaah haji antara lain dari segi usia, pendidikan, dan profesi. Ia juga menambahkan bahwa kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada Malaysia hanya 30.200 dengan durasi tinggal di Arab Saudi selama 45 – 55 hari. Tentunya jumlah tersebut masih jauh dibawah jumlah kuota yang di berikan kepada Indonesia.

Ada pertemuan tersebut, secara garis besar adalah sharing dimana pihak Malaysia ingin mengetahui pengelolaan yang telah dilakukan PPIH mulai dari persiapan, manasik, hingga pelaksanaan ibadah haji dengan kuota jemaah yang sangat banyak. Sri Ilham menjawab pertanyaan pihak Tim Tabung Haji Malaysia mengenai hal tersebut mulai dari pemaparan data jemaah haji Indonesia hingga manajemen operasional haji Indonesia. Pada tahun ini kuota jemaah haji Indonesia telah kembali normal pada angka 211.000 jemaah, namun pihak Arab Saudi memberikan tambahan 10.000 kuota sehingga total yang diberangkatkan pada tahun ini mencapai 221.000 jemaah.

Tidak lupa Sri Ilham juga menambahkan bahwa manajemen juga dibentuk sejak sebelum diberangkatkan. Jemaah haji Indonesia diorganisir dengan membentuk sistem kloter dan struktur petugas. Dalam satu kloter terdiri dari 360 – 455 jemaah haji yang didampingi oleh 5 orang petugas. Tim petugas yang dimaksud terdiri dari 1 orang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), 1 orang Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), dan 3 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Disamping itu Sri Ilham juga menjelaskan layanan apa saja yang jemaah haji Indonesia peroleh selama melaksanakan ibadah haji, antara lain layanan akomodasi, transportasi, dan katering.

Berdasarkan hasil berbagi pengalaman yang telah dilakukan, PPIH juga mendapatkan banyak informasi mengenai kondisi jemaah haji Malaysia. Pasalnya jumlah jemaah haji Malaysia jauh lebih sedikit sehingga pembagian kloternya juga hanya menjadi 100 lebih dengan jumlah jemaah haji 250 orang per kloter. Setiap kloter Malaysia tidak didampingi petugas selama perjalanan ke Arab Saudi, dan petugas baru bergabung setelah setibanya di Arab Saudi. Untuk lokasi akomodasi, karena jumlah jemaah haji Malaysia yang lebih sedikit menyebabkan penempatannya mengelompok pada jarak 900 meter dari Masjidil Haram. Pada proses manasik, jemaah haji Malaysia mendapatkan 17 kali pertemuan manasik dasar dan 2 hari intensif manasik praktik. Pada program tersebut, jemaah haji Malaysia diberikan situasi yang mencerminkan kondisi saat haji nantinya termasuk saat melakukan mabit di Mina dan Arafah. Adapun ujian yang diselenggarakan untuk memastikan penyampaian materi kepada jemaah haji Malaysia, jika terdapat jemaah haji yang belum lolos, maka akan dilakukan proses manasik kembali.

Seusainya pertemuan tersebut, mereka memanfaatkan untuk berkeliling. Tidak lupa Tim Tabung Haji Malaysia melakukan diskusi ringan sembari melanjutkan peninjauan di Kantor Daker Mekah.

Selang beberapa hari setelahnya, PPIH juga mendapatkan kunjungan kembali oleh pihak panitia misi haji dari Pakistan dan Bangladesh pada Rabu 22 September 2017 lalu. Pakistan dan Bangladesh termasuk penyumbang jemaah haji peringkat 5 besar. Pada musim haji 1438 H tahun ini, Pakistan berada diperingkat kedua yang memperoleh kuota 179.000 jemaah haji setelah Indonesia sedangkan Bangladesh mendapatkan peringkat keempat dengan kuota sebesar 129.000 jemaah haji setelah India.

Sama seperti kunjungan Malaysia sebelumnya, delegasi dari Pakistan dan Bangladesh ingin mengetahui bagaimana manajemen yang dilakukan Indonesia sebagai penyumbang jemaah haji terbanyak tahun ini untuk memberikan kualitas layanan yang baik kepada jemaahnya. Pada awal pertemuan, mereka menyempatkan diri untuk memapaparkan kondisi dan profil jemaah haji masing – masing negara.

Pertemuan ini bertujuan untuk bertukar informasi mengenai kelebihan dan kekurangan dari misi haji masing – masing negara. Dengan begitu, pelayanan tahun depan harus lebih baik lagi dan saling belajar dengan negara tetangga. Sri Ilham menuturkan bahwa persiapan penyelenggaraan haji dimulai sejak awal, sehingga pada saat penutupan operasional haji musim ini menandakan bahwa perencanaan haji musim dapat sudah dimulai.

Indonesia berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada beberapa tahun terakhir ini. Oleh karenanya dari segi akomodasi, transportasi, hingga katering juga telah dipikirkan baik – baik hingga Menteri Agama pun turun tangan mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengatur tentang layanan haji di Arab Saudi.

Sri Ilham juga menambahkan manajemen yang diberlakukan Indonesia dalam pembagian daerah kerja dan sektor. Setiap sektor telah tersedia petugas haji yang siap siaga 24 jam selama musim haji berlangsung guna memudahkan jemaah haji Indonesia jika membutuhkan bantuan.

Dari segi masa tinggal, Indonesia memiliki masa tinggal lebih pendek dari kebanyakan negara lainnya yaitu 40 hari yang diatur dengan manajemen keberangkatan dan pemulangan jemaah haji secara bertahap oleh PPIH. Sedangkan untuk Pakistan dan Bangladesh, masa tinggal hingga 45 hari.

Untuk akomodasi, Indonesia memiliki spek tertentu untuk tempat tinggal dari fasilitas, jarak dan kapasitas pemondokan yang digunakan. Pada tahun ini Indonesia membutuhkan 155 hotel dengan jarak beragam untuk menampung jemaah haji Indonesia yang sangat banyak. Sri Ilham menambahkan bahwa hotel yang terletak 1,5 km hingga 4,5 km juga difasilitasi sarana transportasi bus shalawat untuk menuju Masjidil Haram. Sedangkan Pakistan sendiri mengaku bahwa pihaknya menyewa hotel dengan jumlah 195 hotel dan jarak hingga 7 km.

Pertemuan ini berguna untuk memperbaiki sistem manajemen misi haji masing – masing negara. Diharapkan dengan kunjungan ini dapat menjadikan motivasi ketiga negara untuk memberikan layanan lebih baik lagi tahun depan dengan bercermin dari kekurangan pada tahun ini.

Jemaah Menyelundupkan Air Zamzam Berkurang Setelah Tayangan Berita

Jemaah Menyelundupkan Air Zamzam Berkurang Setelah Tayangan Berita

Sudah menginjak hari kesembilan sejak gelombang pertama jemaah haji dipulangkan ke Tanah Air melalui Jeddah. Selama itu pula banyak ditemui kasus tentang koper jemaah haji yang dibongkar saat berada di Bandara King Abdul Aziz.

Bukan menjadi berita yang mengherankan jika jemaah haji berupaya untuk membawa Air Zamzam ke kampung halaman. Sebenarnya jemaah haji memiliki bagian masing – masing Air Zamzam yang akan di bagikan setibanya di Indonesia yaitu sebanyak 5 liter per orang. Namun jumlah itu dirasa masih kurang bagi sebagian jemaah haji. Alhasil mereka yang merasa bagiannya kurang banyak, mencoba memberanikan diri dengan cara meyelundupkan Air Zamzam di dalam kopernya.

Berbagai bentuk cara untuk mengelabui petugas dilakukan. Sebagian besar telah menyembunyikan botol – botol berisi Air Zamzam pada lipatan baju, sajadah, dan bercampur dengan barang – barang lain di dalam koper guna mengelabuhi petugas bandara. Namun hal yang tidak disadari oleh jemaah adalah screening yang dilakukan adalah menggunakan X-ray, sehingga cairan dalam jumlah besar akan terlihat pada monitor pengawas. Koper yang telah diidentifikasi terdapat Air Zamzam dilakukan pembongkaran oleh petugas dan tentu saja Air Zamzam tersebut akan disita. Selain menghambat antrian, disisi jemaah haji pun hal ini menjadi lebih merepotkan karena isian koper akan menjadi berantakan.

Adanya larangan pembawaan Air Zamzam ini bukan tanpa sebab. Peraturan penerbangan telah menetapkan batasan cairan yang boleh dibawa serta saat melakukan penerbangan. Hal ini mengacu pada rekomendasi International Civil  Aviation Organization (ICAO) pada 2006 lalu mengenai potensi tindak kejahatan dan terorisme menggunakan liquid (cairan), aerosol, dan gel (jel) yang disingkat LAG. Oleh sebab itu untuk menjaga keamanan penerbangan, diberlakukan aturan ketat yang tidak memperbolehkan cairan dalam jumlah banyak masuk dalam pesawat. Batas cairan maksimum yang dapat disertakan adalah 100 ml saja. Disamping itu, untuk wadah penyimpanan  (container) yang digunakan juga maksimum 100 ml.

Mengingat banyaknya pelanggaran penyelundupan Air Zamzam yang dilakukan jemaah haji Indonesia, pihak petugas perlindungan jemaah (linjam) tidak bosan – bosannya memberikan pengarahan dan sosialisasi kepada jemaah yang masih berada di Arab Saudi. Namun upaya tersebut masih belum efektif karena masih banyak temuan jemaah yang dibongkar kopernya saat pengecekan melalui X-ray.

Beberapa hari belakangan ini masih ditemui kasus seperti itu namun sudah sangat berkurang. Menurut penuturan Rimsyahtono linjam sektor 11, penurunan kasus tersebut dipengaruhi oleh tayangan televisi. Beberapa hari telah dikabarkan melalui televisi mengenai pembongkaran koper dan screening menggunakan X-ray. Disamping itu, sebagian jemaah mengaku mendapatkan broadcast melalui sosial media mengenai hal tersebut sehingga mereka lebih memilih sesuai aturan daripada memaksakan diri menyelundupkan Air Zamzam kedalam koper.

Rimsyahtono menambahkan bahwa sosialisasi visual dirasa lebih efektif dan tepat sasaran dibandingkan sosialisasi konvensional yang selama ini diterapkan. Pasalnya pihak panitia telah berulang kali memperingatkan namun banyak yang tidak mengindahkan larangan tersebut.

Diharapkan setelah beredarnya video pembongkaran koper jemaah haji Indonesia dapat memberikan pelajaran dan peringatan bagi jemaah yang masih di Arab Saudi. Karena melanggar aturan akan menyusahkan jemaah haji sendiri dan tidak mendapatkan manfaat apapun.

Skema Tanazul Sudah Dijalankan, Tiga Jemaah Gagal Kembali Ke Tanah Air

Skema Tanazul Sudah Dijalankan, Tiga Jemaah Gagal Kembali Ke Tanah Air

Menindaklanjuti banyaknya jemaah haji yang memiliki masalah medis, skema tanazul mulai dijalankan. Tanazul merupakan  skema pemulangan jemaah haji yang tidak bersama dengan jadwal kepulangan kloter jemaah haji tersebut.

Skema tanazul dikhususkan bagi jemaah haji yang telah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan sudah memiliki kondisi membaik. Jemaah haji yang memiliki masalah medis di KKHI dan kondisi kesehatannya memenuhi persyaratan penerbangan akan di pulangkan ke Tanah Air. Skema ini bertujuan untuk mempercepat jadwal pemulangan jemaah haji sesuai dengan kondisi kesehatannya, mengingat perjalanan dari Arab Saudi menuju Indonesia juga memerlukan waktu cukup lama.

Adapun syarat lainnya yang diperbolehkan untuk menggunakan kursi tanazul adalah jemaah haji yang dipulangkan tersebut akan pulang bersama dengan kloter lain dari embarkasi yang sama. Jika lintas embarkasi masih tidak diperbolehkan. Selain itu, untuk jemaah haji dengan kondisi yang sudah membaik akan dikembalikan ke kloter semula agar dapat kembali ke Indonesia bersama dengan kloter aslinya.

Hingga Selasa 12 September 2017 pada database KKHI tercatat sekitar 49 orang pasien laki-laki dirawat di ruang isolasi, 44 orang pasien perempuan di rawat di ruang isolasi, 31 orang di rawat di ICU plus intermediate, 146 orang di IGD, dan 20 orang di bagian psikiatri atau gangguan kejiwaan yang seluruhnya masih di rawat di KKHI.  Diluar catatan tersebut, Kepala Sub Bagian Humas KKHI dr. Ayesha menambahkan bahwa masih terdapat 149 jemaah haji yang dilarikan ke RS Arab Saudi untuk mendapatkan penanganan lebih. Hingga saat ini jumlah jemaah haji yang telah meninggal dan keluar Certificate of Death (COD) di Mekah sebanyak 328 jemaah.

Sebagian besar pasien KKHI merupakan jemaah lansia yang telah memiliki riwayat sakit sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci. Salah satu penanggungjawab medis di KKHI Mekah, dr. Nirwan mengatakan bahwa kursi penerbangan tanazul tidak dipungut biaya karena sudah termasuk dalam kontrak dengan maskapai penerbangan, sedangkan untuk jumlah kursinya kurang lebih 85 orang. Setidaknya sdah 10 tim yang telah diberangkatkan ke Jeddah untuk tanazul dimana setiap tim terdapat 2 – 3 jemaah. Semua bergatung pada kondisi jemaah, seperti pada Selasa lalu terdapat jemaah haji yang masih di KKHI Mekah sedangkan kloternya sudah berangkat menuju Madinah. “Jemaah tersebut akan kita rawat dahulu hingga membaik dan akan kami lakukan evakuasi ke Madinah” imbuh Nirwan.

Pasien tanazul yang diberangkatkan pada Rabu (13/09) lalu ke Jeddah dikabarkan gagal dipulangkan ke Indonesia. Pasalnya, kondisi tiga jemaah tersebut tiba – tiba menurun sesampainya di Jeddah. Sebelum diberangkatkan, ketiganya memiliki kondisi membaik selama dirawat di KKHI Mekah sehingga tiga jemaah tersebut rencana ditanazulkan. Karena kondisi yang tidak memungkinkan dan tidak memenuhi syarat keselamatan penerbangan, alhasil ketiganya dibawa kembali ke KKHI Mekah.

Rencananya pada tanggal 25 September 2017 mendatang KKHI Mekah sudah tidak beroperasional lagi, dengan harapan seluruh jemaah sudah dapat dipulangkan ke Tanah Air . Tim medis KKHI menghimbau kepada seluruh jemaah haji yang masih di Arab Saudi untuk menjaga kondisi fisik maupun mental. Setelah rangkaian puncak haji yang menguras energi, diharapkan para jemaah untuk banyak minum dan atur pola makan tepat waktu karena kondisi tubuh sudah mulai menurun.

Catatan Evaluasi Haji 1438 H Tahun Ini (Bagian 2)

Catatan Evaluasi Haji 1438 H Tahun Ini (Bagian 2)

Rapat evaluasi penyelenggaraan haji tahun 2017 / 1438 H telah dilakukan pada Sabtu (09/09) lalu di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah. Pada rapat tersebut dihadiri oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, delegasi Amirul Hajj, delegasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, dan perwakilan KJRI Jeddah.  Pada rapat tersebut membahas kekurangan – kekurangan yang perlu diperbaiki untuk penyelenggaraan haji tahun depan.

Rapat dibuka dengan pembacaan laporan yang di bacakan oleh Nizar Ali, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah. Kemudia dilanjutkan dengan pemaparan evaluasi oleh Menag. Lima catatan pertama seputar permasalahan fasilitas di Armina, status hukum jemaah haji yang berkaitan dengan deportasi, rencana perubahan sistem penyewaan hotel di Madinah, penambahan jumlah kuota petugas, serta penambahan ruang perwatan khusus yag layak di sekitar bandara Jeddah dan Madinah.

Adapun catatan lainnya yang telah dirangkum adalah sebagai berikut.

  1. Pembaharuan Bus

Jemaah haji dintarkan menggunakan bus untuk perjalanan menuju Arafah – Muzdalifah – Mina. Tidak jarang sebagian jemaah mendapatkan bus yang sudah dalam kondisi tua. Melihat kondisi bus yang sudah tua dan ditambah kondisi perjalanan yang cukup pada saat puncak musim haji, kondisi mesin dan kelayakan fasilitas di bus juga perlu diperhatikan. Pengelolaan bus dipegang penuh oleh Pemerintah Arab Saudi, oleh karenanya perlu dipertimbangkan juga cara untuk melakukan pengajuan upgrading bus tersebut.

  1. Tim Haji Terpadu Daerah (THTD) yang kurang optimal

Menag menyarankan untuk penyelenggaraan haji tahun depan harus ditegaskan siapa yang menjadi perwakilan THTD harus memiliki standar yang baik yaitu kredibel, professional, memahami tugas, berkomitmen dan telah lolos seleksi kesehatan, keilmuan, dan pemahaman terhadap Al- Quran. “Tugas mereka harus dioptimalkan” imbuhnya.

  1. Sweeping optimal untuk jemaah yang terpisah dari rombongan

Sampai saat rapat dilangsungkan, masih terdapat beberapa catatan mengenai jemaah yang belum diketahui keberadaannya. Bahkan perintah untuk menjangkau rumah sakit jiwa dan lainnya telah diterbitkan.

Sweeping yang harus dilakukan lebih optimal dan menyeluruh. “Satu jemaah itu artinya seluruh jemaah kita” ujar Menag. Ia juga menambahkan bahwa keselamatan jemaah haji Indonesia adalah tanggungjawab bersama sehingga perlu digarisbawahi ini adalah masalah serius.

  1. Pembinaan jemaah haji

Menag memberikan masukan agar kedepannya jemaah haji mendapatkan pembinaan tidak hanya mengenai waktu pelontaran jumroh namun juga ilmu fiqih, tarikh, dan hikmah haji. Karena saat ini masih banyak jemaah haji yang belum paham sehingga dirasa perlu untuk melakukan pembinaan sebelum melangsungkan ibadah haji.

  1. Regulasi penyelenggara haji

Regulasi diperlukan untuk mengetahui bagian – bagian mana yang tidak diperlukan dan dapat digantikan dengan sesuatu yang mendukung perbaikan kualitas pelayanan haji. Belajar dari penyelenggaraan haji tahun ini, diharapkan tahun depan berjalan lebih baik, optimal dan lancar.

Demikian berita mengenai evaluasi penyelenggaraan haji tahun 2017 / 1438 H. Pemerintah Indonesia telah bekerja keras untuk memberikan layanan terbaik guna mensukseskan haji tahun ini. Apa yang telah terjadi dan dilakukan pada musim haji tahun ini semoga dapat menjadi cerminan dan pembelajaran untuk peningkatan pelayanan haji tahun depan.

Catatan Evaluasi Haji 1438 H Tahun Ini (Bagian 1)

Catatan Evaluasi Haji 1438 H Tahun Ini (Bagian 1)

Proses pemulangan jemaah haji telah berlangsung sejak Rabu (06/09) kemarin, menandakan bahwa musim haji telah memasuki tahap akhir. Pada tahap tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin beserta Panitia Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dan delegasi Amirul Hajj telah melangsungkan rapat evaluasi penyelenggaraan haji tahun 2017 / 1438 H yang dilaksanakan di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah pada Sabtu (09/09) lalu. Pada rapat tersebut dihadiri juga oleh perwakilan KJRI serta Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel.

Rapat evaluasi penyelenggara haji 2017 / 1438 H menghasilkan beberapa catatan yang harus diperhatikan dan diperbaiki saat penyelenggaraan haji tahun depan. Catatan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Perbaikan sarana dan prasarana di Arafah – Muzdalifah – Mina (Armina)

Kondisi fasilitas yang tersedia di Armina pada musim haji tahun ini dirasa kurang sesuai harapan. Pasalnya, kuota jemaah haji Indonesia mengalami peningkatan signifikan namun tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang memadai.

Penambahan tenda, listrik maupun kamar mandi perlu diperhatikan, terutama di Mina. Menag meminta agar Dubes RI dapat melakukan lobby kepada Pemerintah Arab Saudi untuk memperbanyak fasilitas yang disediakan di Mina.

Adapun rencana lain yang perlu dipertimbangkan untuk meminimalisir overload kapsitas saat mabit di Mina yaitu dengan mengatur kloter – kloter jemaah haji yang hotenya berada di sekitar jamarat untuk disarankan kembali ke hotel sehingga tenda dapat digunakan kloter lain agar tidak terlalu berdesakan.

  1. Catatan hukum jemaah haji

Mungkin isu ini belum sering didengar mengenai catatan hukum jemaah haji Indonesia yang melangsungkan perjalanan haji. Perlu diperhatikan bahwa saat musim haji berlangsung jutaan orang dar berbagai negara berbondong – bondong ke Baitullah untuk menunaikan haji, namun disisi keamanan negara, pihak imigrasi memperketat aturan.

Bagi jemaah haji yang pernah memiliki catatan hukum di Arab Saudi tidak diberikan izin masuk ke negara tersebut, akibatnya adalah deportasi. Oleh sebab itu, untuk penyelenggaraan haji tahun depan perlu dipastikan bahwa jemaah haji memiliki riwayat hukum yang bersih.

  1. Perubahan sistem penyewaan hotel di Madinah

Menag menambahkan bahwa terdapat rencana perubahan yang akan dilakukan hotel – hotel di Madinah terkait sistem reservasinya. Pada tahun ini masih digunakan sistem blocking time, namun kedepannya akan diubah menjadi sistem sewa musiman. Bagi petugas penyelenggara haji harus selalu siap untuk melakukan tindakan preventif apabila rencana ini benar – benar diberlakukan tahun depan.

  1. Penambahan kuota petugas

Tahun ini jemaah haji Indonesia mengalami peningkatan hingga 48.800 jemaah haji reguler jika dibandingkan dengan jumlah jemaah haji empat tahun lalu. Namun saat jumlah jemaah haji Indonesia dikenai pemotongan kuota, jumlah petugas yang dipekerjakan mencapai 3.250 orang, sedangkan saat kuota kembali ditambahkan pada tahun ini hanya bertambah 250 orang petugas saja. Hal tersebut tentunya menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggara ibadah haji. Menag berharap dapat dilakukan lobby untuk mendapatkan kuota tambahan bagi Indonesia agar jumlah petugas di Arab Saudi dapat mengimbangi kebutuhan pelayanan jemaah haji.

  1. Penambahan ruang kesehatan khusus di bandara

Selama ini, kantor Daker yang digunakan sebagai ruangan untuk menindaklanjuti jemaah haji yang sakit. Menag menyatakan perlunya pembangunan ruang rawat yang didirikan disekitar bandara Madinah dan Jeddah. Menurutnya, ruangan yang digunakan saat ini masih kurang memadai dan jemaah haji yang memiliki masalah kesehatan harus mendapatkan pelayanan yang layak.

Disamping catatan – catatan tersebut, masih terdapat beberapa koreksi yang dapat dibaca disini untuk memperbaiki pelayanan panitia haji tahun depan. Pemerintah Indonesia beserta jajarannya telah berusaha semaksimal mungkin dan memberikan yang terbaik untuk mensukseskan penyelenggaraan musim haji tahun 2017 / 1438 H. Walaupun masih terdapat kekurangan, kita patut bersyukur atas kelancaran ibadah haji tahun ini.

 

×