Skema Tanazul Sudah Dijalankan, Tiga Jemaah Gagal Kembali Ke Tanah Air

Skema Tanazul Sudah Dijalankan, Tiga Jemaah Gagal Kembali Ke Tanah Air

Menindaklanjuti banyaknya jemaah haji yang memiliki masalah medis, skema tanazul mulai dijalankan. Tanazul merupakan  skema pemulangan jemaah haji yang tidak bersama dengan jadwal kepulangan kloter jemaah haji tersebut.

Skema tanazul dikhususkan bagi jemaah haji yang telah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan sudah memiliki kondisi membaik. Jemaah haji yang memiliki masalah medis di KKHI dan kondisi kesehatannya memenuhi persyaratan penerbangan akan di pulangkan ke Tanah Air. Skema ini bertujuan untuk mempercepat jadwal pemulangan jemaah haji sesuai dengan kondisi kesehatannya, mengingat perjalanan dari Arab Saudi menuju Indonesia juga memerlukan waktu cukup lama.

Adapun syarat lainnya yang diperbolehkan untuk menggunakan kursi tanazul adalah jemaah haji yang dipulangkan tersebut akan pulang bersama dengan kloter lain dari embarkasi yang sama. Jika lintas embarkasi masih tidak diperbolehkan. Selain itu, untuk jemaah haji dengan kondisi yang sudah membaik akan dikembalikan ke kloter semula agar dapat kembali ke Indonesia bersama dengan kloter aslinya.

Hingga Selasa 12 September 2017 pada database KKHI tercatat sekitar 49 orang pasien laki-laki dirawat di ruang isolasi, 44 orang pasien perempuan di rawat di ruang isolasi, 31 orang di rawat di ICU plus intermediate, 146 orang di IGD, dan 20 orang di bagian psikiatri atau gangguan kejiwaan yang seluruhnya masih di rawat di KKHI.  Diluar catatan tersebut, Kepala Sub Bagian Humas KKHI dr. Ayesha menambahkan bahwa masih terdapat 149 jemaah haji yang dilarikan ke RS Arab Saudi untuk mendapatkan penanganan lebih. Hingga saat ini jumlah jemaah haji yang telah meninggal dan keluar Certificate of Death (COD) di Mekah sebanyak 328 jemaah.

Sebagian besar pasien KKHI merupakan jemaah lansia yang telah memiliki riwayat sakit sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci. Salah satu penanggungjawab medis di KKHI Mekah, dr. Nirwan mengatakan bahwa kursi penerbangan tanazul tidak dipungut biaya karena sudah termasuk dalam kontrak dengan maskapai penerbangan, sedangkan untuk jumlah kursinya kurang lebih 85 orang. Setidaknya sdah 10 tim yang telah diberangkatkan ke Jeddah untuk tanazul dimana setiap tim terdapat 2 – 3 jemaah. Semua bergatung pada kondisi jemaah, seperti pada Selasa lalu terdapat jemaah haji yang masih di KKHI Mekah sedangkan kloternya sudah berangkat menuju Madinah. “Jemaah tersebut akan kita rawat dahulu hingga membaik dan akan kami lakukan evakuasi ke Madinah” imbuh Nirwan.

Pasien tanazul yang diberangkatkan pada Rabu (13/09) lalu ke Jeddah dikabarkan gagal dipulangkan ke Indonesia. Pasalnya, kondisi tiga jemaah tersebut tiba – tiba menurun sesampainya di Jeddah. Sebelum diberangkatkan, ketiganya memiliki kondisi membaik selama dirawat di KKHI Mekah sehingga tiga jemaah tersebut rencana ditanazulkan. Karena kondisi yang tidak memungkinkan dan tidak memenuhi syarat keselamatan penerbangan, alhasil ketiganya dibawa kembali ke KKHI Mekah.

Rencananya pada tanggal 25 September 2017 mendatang KKHI Mekah sudah tidak beroperasional lagi, dengan harapan seluruh jemaah sudah dapat dipulangkan ke Tanah Air . Tim medis KKHI menghimbau kepada seluruh jemaah haji yang masih di Arab Saudi untuk menjaga kondisi fisik maupun mental. Setelah rangkaian puncak haji yang menguras energi, diharapkan para jemaah untuk banyak minum dan atur pola makan tepat waktu karena kondisi tubuh sudah mulai menurun.

Larangan Memasukkan Air Zamzam dalam Koper, Jemaah Harus Patuhi Ketentuan Penimbangan Barang

Larangan Memasukkan Air Zamzam dalam Koper, Jemaah Harus Patuhi Ketentuan Penimbangan Barang

Pada Rabu 6 September 2017 kemri, gelombang pertama jemaah haji Indonesia telah diberangkatkan ke Jeddah untuk proses pemulangan ke Tanah Air. Penimbangan koper telah dilakukan sejak dua hari belakangan ini. Pada masa penimbangan tersebut masih ditemukan jemaah yang membawa air Zamzam didalam koper. Pengecekan dilakukan menggunakan X-ray di bandara menyebabkan koper yang terindikasi terdapat air Zamzam terpaksa dibongkar. Pembongkaran koper – koper jemaah haji tersebut berakibat pada menumpuknya antrian pada proses pengecekan bagasi. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri karena dapat berdampak terhadap jadwal penerbangan pesawat.

Jemaah telah mendapatkan penyuluhan terkait pembawaan air Zamzam, bahkan penyuluhan tersebut telah dilakukan sejak jemaah haji masih berada di Tanah Air. Namun pada kenyataannya masih banyak jemaah haji yang tidak mempedulikan larangan tersebut dan tetap memasukkan air Zamzam kedalam koper. Atas kejadian ini, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Nizar Ali menyampaikan bahwa pada kloter keberangkatan selanjutnya agar selalu diingatkan serta akan memastikan melalui screening dengan X-ray untuk proses identifikasi. Ia juga menambahkan jika terdapat koper positif identifikasi membawa air Zamzam akan segera dilakukan pembongkaran demi keselamatan penerbangan.

Nizar berharap jemaah menaati peraturan dan larangan yang telah disampaikan agar proses pengecekan bagasi tidak terhambat. Secara keseluruhan, jadwal pemulangan jemaah haji masih tepat waktu.

Jemaah haji yang telah dijadwalkan pulang pada gelombang pertama dinilai sudah memahami ketentuan penimbangan. Pasalnya, sebagian besar jemaah sudah mengerti kapasitas maksimum yang diperbolehkan untuk masing – masing koper yakni seberat 32 kg. Namun masih ada jemaah yang memiliki koper lebih dari batas yang diperbolehkan, sehingga petugas menghimbau untuk melakukan pengurangan kapasitas pada isi koper tersebut.

Jemaah haji Indonesia dinilai patuh terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Hal ini memudahkan panitia untuk melakukan tugasnya dan mengatur agar proses pemulangan sesuai jadwal serta lancar. Nasrullah Jasam, Kepala Daker Mekah, juga menghimbau kepada para jemaah haji untuk tidak membawa barang – barang yang dilarang seperti gunting kuku dan air Zamzam. Kalaupun gunting kuku tetap ingin dibawa pulang, beliau menambahkan untuk menyimpannya kedalam bagasi. Adapaun berat barang yang diijinkan masuk dalam kabin adalah 7 kg saja. Penimbangan barang bawaan dilakukan pada H-2 sebelum jadwal pemulangan.

Jemaah Kloter Awal Pulang Tanggal 6 – 7 September

Jemaah Kloter Awal Pulang Tanggal 6 – 7 September

Jemaah Kloter Awal Pulang Tanggal 6 September – Rangkaian kegiatan puncak haji telah berlangsung sejak Kamis 31 Agustus 2017 lalu dan hampir selesai. Itu tandanya tidak lama lagi pemulangan jemaah haji ke tanah air akan segera di laksanakan. Bagi jemaah haji yang mengambil nafar awal diwajibkan meninggalkan Mina sejak tanggal 12 Dzulhijjah atau bertepatan pada hari Minggu 3 September 2017 saat matahari terbenam (maghrib), sedangkan bagi

Kasi Layanan Pemulangan Dake Mekah, Edayanti Dasril
(foto : kemenag.go.id)

jemaah yang mengambil nafar tsani diwajibkan meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah atau Senin 4 September 2017. Mereka meninggalkan Mina dan kembali ke hotel masing – masing di Mekah.

Pada tanggal 6 hingga 7 September mendatang, Kepala Seksi Layanan Pemulangan Daker Mekah Edayanti Dasril menerangkan bahwa terdapat 11 kloter yang akan dipulangkan perdana dari Mekah ke Jeddah lalu dilanjutkan dengan perjalanan kembali ke Indonesia. Lima kloter pertama akan diterbangkan dari Jeddah ke Indonesia pada tanggal 6 September 2017, sedangkan enam kloter lainnya pada tanggal 7 September 2017.

Berikut daftar kloter yang akan dipulangkan ke tanah air pada gelombang pertama.

  1. Kloter 1 Embarkasi Medan (MES 01), terbang ke tanah air tanggal 6 September 2017 pukul 11.00 WAS
  2. Kloter 1 Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 01), terbang ke tanah air tanggal 6 September 2017 pukul 12.00 WAS
  3. Kloter 1 Embarkasi Solo (SOC 01), terbang ke tanah air tanggal 6 September 2017 pukul 13.30 WAS
  4. Kloter 1 Embarkasi Padang (PDG 01), terbang ke tanah air tanggal 6 September 2017 pukul 17.10 WAS
  5. Kloter 1 Embarkasi Makassar (UPG 01), terbang ke tanah air tanggal 6 September 2017 pukul 20.20 WAS
  6. Kloter 2 Embarkasi Solo (SOC 02), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 00.20 WAS
  7. Kloter 3 Embarkai Solo (SOC 03), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 01.20 WAS
  8. Kloter 1 Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 01), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 05.15 WAS
  9. Kloter 4 Embarkasi Solo (SOC 04), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 05.30 WAS
  10. Kloter 1 Embarkasi Balikpapan (BPN 01), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 08.20 WAS
  11. Kloter 2 Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 02), terbang ke tanah air tanggal 7 September 2017 pukul 09.00 WAS

Pemulangan gelombang kedua dari Mekah ke Jeddah akan dilaksanakan pada tanggal 7 September 2017 mendatang dengan 14 kloter yang akan dipulangkan. Disamping mempersiapkan sarana dan prasarana untuk pemulangan jemaah haji, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga mengatur tentang berat barang bawaan yang nantinya akan di bawa kembali ke tanah air.

Penimbangan serta pengangkutan koper nantinya akan dilakukan sejak H-2 sebelum jadwal pemulangan. Jemaah haji diperkenankan untuk membawa beberapa barang yang dibawa masing – masing, yaitu tas paspor, tas jinjing kabin maksimal 7 kg serta koper maksimal 32 kg. Kelebihan muatan dianjurkan untuk menggunakan jasa kargo. Disamping itu, pihak penerbangan hanya memperbolehkan tas dan koper yang diberikan oleh penyelenggara haji saja.

Perlu dicermati pula mengenai larangan barang yang dibawa saat melakukan penerbangan pulang haji yaitu membawa cairan yang berlebihan kecuali obat – obatan, membawa benda berbahan magnet, aerosol, ataupun senjata tajam, membawa parfum berlebihan (maksimal 10 buah @100ml) serta dilarang keras membawa air Zamzam. PPIH telah memperingatkan jika ada barang hilang karena pembongkaran akibat indikasi benda membahayakan penerbangan bukanlah menjadi tanggungjawab PPIH.

Bagi para jemaah haji tidak perlu khawatir mengenai larangan membawa air Zamzam karena setibanya di asrama haji nanti masing – masing akan mendapatkan bagian sebesar 5 liter.

Dari Kepadatan Tenda di Mina hingga Pengaturan Shuttle Armina Yang Baik

Dari Kepadatan Tenda di Mina hingga Pengaturan Shuttle Armina Yang Baik

Pelaksanaan Ibadah Haji tahun ini merupakan tahun dimana Indonesia mengirimkan jumlah jemaah lebih banyak dari tahun sebelumnya. Disamping itu Indonesia juga menjadi negara yang memberangkatkan jemaah terbanyak.

Pertambahan jumlah jemaah yang diberangkatkan tahun lalu dengan tahun ini memiliki selisih yang signifikan yakni mencapai 52.000 jemaah. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan penambahan tenda maupun kapasitas tenda jemaah yang berada di Mina. Oleh karenanya terjadi pemadatan saat jemaah melakukan mabit di Mina.

Masalah tersebut menjadi catatan dan evaluasi bagi Menteri Agama Lukman Hakin Saifuddin kepada pihak penyelenggara tahun ini karena dinilai tidak sesuai dengan harapan. Setelah sebelumnya tenda di Arafah memiliki suhu yang panas, tenda di Mina juga tidak sessuai harapan karena kapasitas yang tidak mempu menampung seluruh jemaah haji Indonesia. Menag menyampaikan protes kepada muassasah dan maktab.

Menanggulangi masalah tersebut, Menag menghimbau kepada para jemaah haji yang lokasi hotelnya berada disekitar jamarat untuk kembali ke hotel masing-masing sehingga tenda di Mina dapat digunakan untuk mabit oleh jemaah haji lain yang hotelnya jauh dari jamarat.

Bukan berarti bagi jemaah yag dianjurkan pulan ke hotel tidak melakukan mabit di Mina. Seperti yang disampaikan oleh salah satu anggota Amirul Hajj yaitu Dr. Asrorun Ni’am, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, bahwa perluasan area Mina itu diperbolehkan untuk digunakan sebagai lokasi mabit ketika waktu ibadah haji telah berlangsung karena banyaknya jemaah haji yang berpartisipasi sedangkan kapasitas Mina tidak cukup untuk menampung seluruhnya. Hal ini juga sering dikenal sebagai Mina Jadid (Mina Baru) yang merupakan inisiasi pemerintah Arab Saudi untuk menjaga keselamatan, ketertiban, dan keamanan selama ibadah haji berlangsung. Posisinya adalah masih di dalam posisi ittishal (tersambung dengan posisi Mina).

Bagi jemaah haji yang menginap di Mina sejak tanggal 10 – 12 Dzulhijjah atau disebut dengan nafar awal, ditegaskan bahwa mereka harus keluar dari Mina pada tanggal 3 Sepetmber 2017 sebelum maghrib, sedangkan bagi yang mengambil nafar tsani akan meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah atau bertepatan dengan hari Senin 4 September 2017.

Berbeda dengan kondisi tenda di Mina yang diprotes oleh  Menag, sarana transportasi yang disediakan pemerintah Arab Saudi berupa bus shuttle Armina mendapatkan apresiasi. Pasalnya, pengaturan jadwal yang dilakukan pemerintah Arab Saudi sangat baik dalam memfasilitasi mobilisasi pergerakan jemaah haji dari Arafah – Muzdalifah – Mina terlaksana dengan tertib dan lancar. Disamping itu, karena pengaturan jadwal yang baik, pergerakan jemaah menjadi lebih cepat.

Pemerintah Arab Saudi yang memiliki kewenangan penuh dalam mengatur layanan transportasi selama di Armina. Layanan yang diberikan adalah pergerakan dari Mekah – Arafah, Arafah – Muzdalifah, Muzdalifah – Mina, dan Mina – Mekah.

Pada layanan Mekah – Arafah dan Mina – Mekah, telah disediakan 21 unit shuttle bus untuk setiap maktab dengan jumlah jemaah dalam satu maktab adalah 3.000 orang. Untuk jemaah haji Indonesia, keseluruhan jemaah berjumlah 70 maktab. Untuk layanan Arafah – Muzdalifah dan Muzdalifah – Mina, jumlah armada bus yang disediakan berkurang mengingat jarak antar lokasi lebih dekat atau 2 – 4 kilometer saja.

Jumlah Jemaah Haji Wafat Meningkat, KKHI Tingkatkan Pelayanan Medis

Jumlah Jemaah Haji Wafat Meningkat, KKHI Tingkatkan Pelayanan Medis – Memasuki dua minggu sebelum puncak haji, jamaah haji Indonesia telah seluruhnya diberangkatkan ke Arab Saudi. Saat ini telah ada sebanyak 173.684 jemaah haji yang sudah berada di Mekah. Dalam dua hari terakhir, jumlah jemaah haji yang wafat di tanah suci bertambah 20 orang sehingga total jemaah haji yang wafat mencapai 66 orang pada Selasa (22 Agustus 2017). Masih pada indikasi yang sama, sebagian besar jamaah meninggal akibat serangan jantung dan gangguan pernapasan, sedangkan beberapa lainnya terdapat indikasi kanker dan gangguan peredaran darah.

 

Berikut nama – nama Jemaah haji yang telah wafat di tanah suci saat melakukan rangkaian ibadah haji.

  1. Surita Hartini binti Maserun (49), kloter 003 Banjarmasin (BDJ 003), meninggal dunia di RS. Arab Saudi (RSAS) Mekah dengan indikasi kanker.
  2. Amin bin Samin Muliha (60), kloter 030 Surabaya (SUB 030), meninggal dunia di RSAS Mekah karena infeksi.
  3. Abdul Hadi Santoso bin M Asnawi (68), kloter 025 Solo (SOC 025), meninggal dunia di RSAS Mekah karena serangan jantung.
  4. Syamsul Bahri bin Munaf (60), kloter 001 Padang (PDG 001), meninggal dunia di RSAS Mekah karena gangguang sirkulasi darah.
  5. Abdul Gani bin Abdul Hapid Tang (69), kloter 006 Balikpapan (BPN 006), meninggal dunia di pemondokan Mekah karena serangan jantung.
  6. Yulianti bin Muhid Abdullah (75), kloter 001 Medan (MES 001), meninggal dunia di RSAS Madinah karena gangguang saluran pernapasan.
  7. Sumadi Marsajid bin Notosuyidno (80), haji khusus, meninggal dunia di RSAS Madinah karena gangguan saluran pernapasan.
  8. Marida Cecep binti Rengga (49), kloter 017 Ujungpandang (UPG 017), meninggal dunia di RSAS Mekah karena serangan jantung.
  9. Becce Mariani binti Bacco (47) dari kloter 010 Balikpapan (BPN 010), meninggal dunia di RSAS Mekah karena serangan jantung.
  10. Asiah binti Lukman Zainal Abidin (77), kloter 004 Palembang (PLM 004), meninggal dunia dipemondokan Mekah karena serangan jantung.
  11. Kardisah binti Wardi Yunus (67) dari kloter 019 solo (SOC 019), meninggal dunia di Masjid Mekah karena serangan jantung.
  12. Thantawi bin Drajat Hasbullah (73) dari kloter anjarmasin (BDJ 003) meninggal dunia di pemondokan Mekah karena serangan jantung.
  13. Nasrap bin Asli Tarmono (77) dari kloter 031 Surabaya (SUB 031) meninggal dunia di pemondokan Mekah karena serangan jantung.
  14. Dulpani bin Asmuni Bola (57) dari kloter 037 Surabaya (SUB 037) meninggal dunia di RSAS Mekah karena serangan jantung.
  15. Muhammad Sobri bin Syamsul Bahri (62) dari kloter 006 Jakarta (JKG 006) meninggal dunia di Mekah karena serangan jantung.
  16. Farikhin bin Masduki Jakariyah (78) dari kloter 006 Jakarta – Bekasi (JKS 006) meninggal dunia di pemondokan Mekah karena serangan jantung.
  17. Jumra binti Umr Daeng Pawinru (75) dari kloter 022 Ujungpandang (UPG 022) meninggal dunia di RSAS Mekah karena serangan jantung.
  18. Nahin binti H Ral Tembun (77) dari kloter 011 Jakarta (JKG 011) meninggal dunia di RSAS Madinah karena serangan jantung.
  19. Uray Suarni binti Uray Hasanuddin dari kloter 013 Batam (BTH 013) meninggal dunia di RSAS Madinah karena gangguang saluran pernapasan.
  20. Andin Kadim bin Ukir Entjun (62) dari kloter 034 Surabaya (SUB 034) meninggal dunia di pemondokan Mekah karena serangan jantung.

Untuk daftar 46 jemaah wafat sebelumnya dapat dilihat pada daftar ini. Daftar nama Jemaah dapat dilihat melalui Sistem Komputerisasi dan Informasi Haji Terpadu (Siskohat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Semoga amal ibadah mereka diterima disisi Allah SWT. Amin.

Adapun upaya pemerintah dalam hal ini yaitu meningkatkan pelayanan medis di Mekah maupun di Madinah. Sampai hari ini, Rabu 23 Agustus 2017, jumlah pasien yang dievakuasi oleh petugas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) terus meningkat. Untuk mengimbangi banyaknya pasien yang berdatangan, tim medis tidak memberlakukan hari libur pada musim haji tahun ini. Dalam sehari, terdapat kurang lebih 30 pasien yang harus ditangani oleh satu tenaga medis. Baik dokter, perawat, dan petugas medis lainnya bekerja 24 jam untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia.

×