Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat – Setelah sebelumnya 23 jemaah haji telah positif terjangkit diare di Madinah, saat ini kasus serupa kembali terjadi dan memakan korban hingga 65 orang. Pada peristiwa ini, jemaah haji yang terindikasi penyakit diare adalah Jemaah haji kloter 55 Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 55).

Ilustrasi

Sejumalah jemaah haji mengalami keluhan diare sejak Minggu 24 September 2017, sedangkan 20 jemaah haji lainnya mengalami hal serupa pada keesokan harinya. Penanganan medis telah diberikan kepada jemaah yang mengalami keluhan. Beberapa diantaranya dilarikan ke Tim Gerak Cepat (TGC) sektor satu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan sebagian lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Penanganan pertama yang diberikan kepada jemaah haji adalah pemberian oralit dan suplai air minum yang banyak untuk menghindari kondisi tubuh mengalami dehidrasi.

Kondisi para Jemaah telah membaik keesokan harinya. Hingga Selasa (26/09), sebagian besar jemaah haji sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Pada Rabu (27/09), semua Jemaah terserang diare telah dinyatakan pulih total.

Tidak jauh berbeda dengan kasus diare sebelumnya yang juga terjadi di Madinah, masalah utama yang menyebabkan wabah ini adalah kondisi makanan. Menurut Amin Handoyo, Kepala Daerah Kerja Mekah, mereka terjangkit penyakit melalui makanan yang dikonsumsi, bisa dari katering atau makanan lainnya. Walaupun sempat beredar rumor bahwa faktor utama penybab diare adalah makanan katering yang dikonsumsi oleh jemaah haji, namun pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi belum bisa memastikan kebenarannya. Pasalnya makanan katering yang telah disewa oleh pihak PPIH tidak hanya menyediakan konsumsi untuk satu kloter saja melainkan beberapa kloter lainnya.

Katering yang melayani kloter JKG 55 adalah Ad-Dakhil (Black Stone) dan juga melayani 11 kloter lainnya. Kloter JKG 52 yang tinggal satu hotel dengan JKG 55 juga termasuk kedalam daftar yang dilayani pengusaha katering Ad – Dakhil. Katering Ad-Dakhil melayani sekitar 4000 – 5000 jemaah haji. Namun hanya jemaah haji kloter JKG 55 saja yang terjangkit diare. Oleh sebab itu masalah penyebab diare masih diselidiki.

Isu tersebut dilemahkan dengan adanya tes yang telah dilakukan oleh pihak PPIH setiap harinya. Pasalnya, setiap layanan katering yang telah dikontrak dengan PPIH pasti akan diuji kelayakannya. Tidak hanya itu, pihak PPIH juga melakukan tes dan turut mengkonsumsinya, sehingga apabila kualitas yang diberikan tidak baik seharusnya seluruh kloter dan seksi katering PPIH juga merasakan dampak yang sama.

Ada kemungkinan lain karena pola makan yang kurang disiplin yang dimiliki jemaah haji. Makanan katering yang diberikan kepada jemaah haji sebaiknya langsung dikonsumsi sesaat setelah didistribusikan. Penundaan konsumsi makanan akan berpengaruh pada kualitas makanan tersebut karena makanan yang diberikan memiliki batas tertentu untuk layak konsumsi. Hal ini sudah disampaikan oleh pihak PPIH sebelumnya, terlebih pada beberapa hari sebelumnya telah memakan korban 23 jemaah haji dengan kasus serupa. Disamping itu, penundaan konsumsi makanan juga berimbas pada kesehatan pencernaan. Pihak PPIH sudah mengatur sedemikian rupa jadwal termasuk jadwal makan agar Jemaah haji terhindar dari sakit. Oleh sebab itu, penundaan konsumsi katering bisa menjadi penyebab terjangkitnya diare pada sebagian Jemaah haji.

Faktor lingkungan juga memiliki andil dalam kasus ini. Hotel yang digunakan untuk menginap di Madinah tidak hanya diisi oleh jemaah haji Indonesia saja, melaikan terdapat pula jemaah haji dari negara lain. Perbedaan kebiasaan dan daya tahan tubuh juga memiliki pengaruh besar sehingga dapat membuat penyakit ini menyebar.

Kejadian ini membuat pihak Kementerian Kesehatan Arab Saudi melakukan pemeriksaan baik kepada perusahaan penyedia katering maupun pihak hotel. Mulau dari kebersihan, kesehatan lingkungan, hingga penilaian kualitas juga sedang dilakukan. Pihak PPIH Daker Madinah juga tidak tinggal diam. Mereka meminta pihak hotel untuk memperhatikan kebersihan lingkungan yang merupakan tanggungjawabnya.

Disisi lain, pihak KKHI mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi atas kerja keras yang telah diberikan selama musim haji 1438 H ini. Ambassador Health Awareness 1438 H telah jatuh kepada dr. Etik Retno Wiyati selaku Kepala Bidang KKHI Mekah. Adapunpenghargaan lainnya yang juga diberikan kepada KKHI atas partisipasinya dalam Program Kesehatan Haji Tahun 1438 H.

Pemberian penghargaan tersebut langsung dilakukan oleh Muneera Khaled Balahmar selaku Chief of Health Awarness Ambassador Program in Haj Ambassador Helath Awareness kepada dr. Etik Retno Wiyati pada Selasa 26 September 2017. Lalu pada penghargaan kedua diberikan langsung oleh dr. Musthafa bin Jamil Baljun selaku Dirjen Pelayanan Kesehatan Daerah Kerja Mekah kepada dr. Mezan selaku Kepala Seksi KKHI Daerah Kerja Mekah. Acara tersebut diselenggarakan di Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

KKHI berhak menerima penghargaan tersebut karena telah memberikan totalitas dalam penanganan kesehatan Jemaah haji musim ini. Beberapa program yang diberikan apresiasi antara lain kegiatan promotif preventif oleh Tim Promotif Preventif, pelayanan kuratif di KKHI dan pelayanan gerak cepat di lapangan.

Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan , dan Bangladesh mengunjungi PPIH

Panitia Haji Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh mengunjungi PPIH – Pada 19 September 2017 lalu, pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kedatangan tamu dari Tim Tabung Haji Malaysia. Pertemuan rutin beberapa tahun belakangan ini yang selalu dilaksanakan menjelang fase akhir ibadah haji ini di gelar di Kantor PPIH Daerah Kerja Mekah. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Sri Ilham Lubis selaku Direktur Layanan Haji Luar Negeri, Ahmad Jauhari selaku Staf Teknis 3 Kantor Urusan Haji, Nasrullah Jasam selaku Kepala Daerah Kerja Mekah, dan para Kepala Seksi Layanan dari Daerah Kerja Mekah. Dari pihak Tim Tabung Haji Malaysia dipimpin oleh Datuk Syed Saleh Syed Abdur Rahman selaku Ketua Rombongan serta didampingi para pengarah operasional yang setara dengan Kepala Daker dan Kepala Bidang Layanan.

Pertemuan ini bertujuan untuk silaturahmi dan melakukan sharing pengalaman selama menjalankan tugas sebagai panitia penyelenggara haji di negara masing – masing. Disamping itu, Syeh Saleh juga mengutarakan bahwa Malaysia dan Indonesia masih satu rumpun sehingga profil jemaah haji Malaysia dengan Indonesia tidak berbeda jauh. Yang dimaksudkan dengan profil jemaah haji antara lain dari segi usia, pendidikan, dan profesi. Ia juga menambahkan bahwa kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada Malaysia hanya 30.200 dengan durasi tinggal di Arab Saudi selama 45 – 55 hari. Tentunya jumlah tersebut masih jauh dibawah jumlah kuota yang di berikan kepada Indonesia.

Ada pertemuan tersebut, secara garis besar adalah sharing dimana pihak Malaysia ingin mengetahui pengelolaan yang telah dilakukan PPIH mulai dari persiapan, manasik, hingga pelaksanaan ibadah haji dengan kuota jemaah yang sangat banyak. Sri Ilham menjawab pertanyaan pihak Tim Tabung Haji Malaysia mengenai hal tersebut mulai dari pemaparan data jemaah haji Indonesia hingga manajemen operasional haji Indonesia. Pada tahun ini kuota jemaah haji Indonesia telah kembali normal pada angka 211.000 jemaah, namun pihak Arab Saudi memberikan tambahan 10.000 kuota sehingga total yang diberangkatkan pada tahun ini mencapai 221.000 jemaah.

Tidak lupa Sri Ilham juga menambahkan bahwa manajemen juga dibentuk sejak sebelum diberangkatkan. Jemaah haji Indonesia diorganisir dengan membentuk sistem kloter dan struktur petugas. Dalam satu kloter terdiri dari 360 – 455 jemaah haji yang didampingi oleh 5 orang petugas. Tim petugas yang dimaksud terdiri dari 1 orang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), 1 orang Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), dan 3 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Disamping itu Sri Ilham juga menjelaskan layanan apa saja yang jemaah haji Indonesia peroleh selama melaksanakan ibadah haji, antara lain layanan akomodasi, transportasi, dan katering.

Berdasarkan hasil berbagi pengalaman yang telah dilakukan, PPIH juga mendapatkan banyak informasi mengenai kondisi jemaah haji Malaysia. Pasalnya jumlah jemaah haji Malaysia jauh lebih sedikit sehingga pembagian kloternya juga hanya menjadi 100 lebih dengan jumlah jemaah haji 250 orang per kloter. Setiap kloter Malaysia tidak didampingi petugas selama perjalanan ke Arab Saudi, dan petugas baru bergabung setelah setibanya di Arab Saudi. Untuk lokasi akomodasi, karena jumlah jemaah haji Malaysia yang lebih sedikit menyebabkan penempatannya mengelompok pada jarak 900 meter dari Masjidil Haram. Pada proses manasik, jemaah haji Malaysia mendapatkan 17 kali pertemuan manasik dasar dan 2 hari intensif manasik praktik. Pada program tersebut, jemaah haji Malaysia diberikan situasi yang mencerminkan kondisi saat haji nantinya termasuk saat melakukan mabit di Mina dan Arafah. Adapun ujian yang diselenggarakan untuk memastikan penyampaian materi kepada jemaah haji Malaysia, jika terdapat jemaah haji yang belum lolos, maka akan dilakukan proses manasik kembali.

Seusainya pertemuan tersebut, mereka memanfaatkan untuk berkeliling. Tidak lupa Tim Tabung Haji Malaysia melakukan diskusi ringan sembari melanjutkan peninjauan di Kantor Daker Mekah.

Selang beberapa hari setelahnya, PPIH juga mendapatkan kunjungan kembali oleh pihak panitia misi haji dari Pakistan dan Bangladesh pada Rabu 22 September 2017 lalu. Pakistan dan Bangladesh termasuk penyumbang jemaah haji peringkat 5 besar. Pada musim haji 1438 H tahun ini, Pakistan berada diperingkat kedua yang memperoleh kuota 179.000 jemaah haji setelah Indonesia sedangkan Bangladesh mendapatkan peringkat keempat dengan kuota sebesar 129.000 jemaah haji setelah India.

Sama seperti kunjungan Malaysia sebelumnya, delegasi dari Pakistan dan Bangladesh ingin mengetahui bagaimana manajemen yang dilakukan Indonesia sebagai penyumbang jemaah haji terbanyak tahun ini untuk memberikan kualitas layanan yang baik kepada jemaahnya. Pada awal pertemuan, mereka menyempatkan diri untuk memapaparkan kondisi dan profil jemaah haji masing – masing negara.

Pertemuan ini bertujuan untuk bertukar informasi mengenai kelebihan dan kekurangan dari misi haji masing – masing negara. Dengan begitu, pelayanan tahun depan harus lebih baik lagi dan saling belajar dengan negara tetangga. Sri Ilham menuturkan bahwa persiapan penyelenggaraan haji dimulai sejak awal, sehingga pada saat penutupan operasional haji musim ini menandakan bahwa perencanaan haji musim dapat sudah dimulai.

Indonesia berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada beberapa tahun terakhir ini. Oleh karenanya dari segi akomodasi, transportasi, hingga katering juga telah dipikirkan baik – baik hingga Menteri Agama pun turun tangan mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengatur tentang layanan haji di Arab Saudi.

Sri Ilham juga menambahkan manajemen yang diberlakukan Indonesia dalam pembagian daerah kerja dan sektor. Setiap sektor telah tersedia petugas haji yang siap siaga 24 jam selama musim haji berlangsung guna memudahkan jemaah haji Indonesia jika membutuhkan bantuan.

Dari segi masa tinggal, Indonesia memiliki masa tinggal lebih pendek dari kebanyakan negara lainnya yaitu 40 hari yang diatur dengan manajemen keberangkatan dan pemulangan jemaah haji secara bertahap oleh PPIH. Sedangkan untuk Pakistan dan Bangladesh, masa tinggal hingga 45 hari.

Untuk akomodasi, Indonesia memiliki spek tertentu untuk tempat tinggal dari fasilitas, jarak dan kapasitas pemondokan yang digunakan. Pada tahun ini Indonesia membutuhkan 155 hotel dengan jarak beragam untuk menampung jemaah haji Indonesia yang sangat banyak. Sri Ilham menambahkan bahwa hotel yang terletak 1,5 km hingga 4,5 km juga difasilitasi sarana transportasi bus shalawat untuk menuju Masjidil Haram. Sedangkan Pakistan sendiri mengaku bahwa pihaknya menyewa hotel dengan jumlah 195 hotel dan jarak hingga 7 km.

Pertemuan ini berguna untuk memperbaiki sistem manajemen misi haji masing – masing negara. Diharapkan dengan kunjungan ini dapat menjadikan motivasi ketiga negara untuk memberikan layanan lebih baik lagi tahun depan dengan bercermin dari kekurangan pada tahun ini.

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat

Satu Hari Menjelang Pemberhentian Bus Shalawat – Tinggal dalam hitungan hari bus shalawat akan berhenti beroperasi. Bus yang disediakan sebagai sarana prasarana transportasi di Mekah ini sudah mendekati tanggal terakhir pengoperasian yakni pada Selasa 26 September 2017 mendatang.

Bus Shalawat Menurunkan Jemaah Haji Indonesia (kemenag.go.id)

Bus shalawat merupakan bus yang mengantar jemput jemaah haji dari  hotel menuju Masjidil Haram selama musim haji. Bus shalawat telah dioperasikan sejak 6 Agustus 2017 lalu. Menurut Kepala Bidang Transportasi Subhan Cholid yang bertanggungjawab mengurus perihal sarana transportasi jemaah haji Indonesia selama menunaikan ibadah haji di Arab Saudi mengatakan bahwa bus shalawat telah dijadwalkan beroperasi pada 22 hari sebelum puncak haji di Armina dan 22 hari pasca Armina. Bus shalawat sendiri setiap harinya melakukan operasi 24 jam.

Bus shalawat diberhentikan pada Rabu (27/09) mendatang sesuai dengan jadwal keberangkatan terakhir jemaah haji menuju Madinah. Hingga hari ini, layanan bus shalawat tetap beroperasi walaupun sudah tampak lenggang. Bahkan pada saat subuh, bus shalawat tetap berjalan sesuai dengan jadwalnya untuk melayani jemaah haji Indonesia yang melakukan ibadah di Masjidil Haram. Petugas halte tetap berjaga seperti biasanya.

Cholid menambahkan bahwa saat ini terdapat lokasi yang masih dilayani oleh bus shalawat yaitu Aziziyah Janubiyah, Aziziyah Syimaliyah 2, Mahbas Jin, Syisyah, Syisyah Raudhah, Syisyah 1, Syisyah 2, Raudhah, Jarwal / Biban, dan Misfalah. Total keseluran jemaah yang masih dilayani bus shalawat adalah sebanyak 11.947 jemaah. Wilayah lainnya sudah kosong dikarenakan jemaah sudah diberangkatkan ke Madinah atau ke Jeddah untuk dipulangkan ke Tanah Air. Walaupun semakin hari, jemaah haji Indonesia yang menggunakan layanan bus shalawat berkurang, bus ini tetap akan beroperasi hingga semua jemaah sudah diberangkatkan beranjak dari Mekah.

Bus Shalawat (kemenag.go.id)

Pada awal pengoperasiannya hingga saat ini, bus shalawat telah memberikan kemudahan kepada jemaah haji Indonesia sehingga dapat dengan mudah mengunjungi Masjidil Haram. Terdapat 46 halte yang disediakan untuk melakukan penjemputan dari hotel menuju Masjidil Haram melalui tiga terminal yaitu terminal Jiad, Syib Amir, dan Bab Ali. Kurang lebih sebanyak 176.226 jemaah haji Indonesia telah memanfaatkan layanan bus shalawat ini.

Jumlah armada bus shalawat yang disediakan menyesuaikan dengan jumlah jemaah haji yang akan dilayani, sehingga pada waktu mendekati puncak haji dan beberapa hari setelahnya, jumlah armada yang dioperasikan lebih banyak dibandingkan saat ini. Pada puncak haji lalu, armada bus shalawat yang disediakan dan beroperasi mencapai 352 bus. Semua pengoperasian berjalan dengan lancar dan tidak terdapat masalah berarti berkat kerja keras seluruh petugas yang bertugas siang dan malam. Sekitar 175 orang petugas diberi tanggungjawab dalam menangani layanan bus shalawat ini termasuk siap siaga selama 24 jam bergantian.

Bus Shalawat Menaikkan Jemaah Haji Indonesia (kemenag.go.id)

Cholid mengimbuhkan bahwa panitia seksi transportasi memang memiliki tanggungjawab ekstra, walaupun cuaca terik menyengat dan kelelahan tidak memutuskan niat untuk memberikan layanan terbaik kepada seluruh jemaah haji Indonesia pada musim haji 1438 H ini.

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Kondisi Mekah Pasca Musim Haji, Katering Sudah Berhenti dan Hujan Lebat Terjadi

Kondisi Mekah Pasca Musim Haji, Katering Sudah Berhenti dan Hujan Lebat Terjadi  – Pada Senin 18 September 2017 lalu Kota Mekah diguyur hujan lebat yang disertai angin kencang. Hujan diperkirakan mulai terjadi pada pukul 16.40 waktu setempat. Hujan lebat tersebut berlangsung cukup lama hingga lebih dari 25 menit.

Mekah hujan

Setelah suhu panas menerpa Kota Mekah sejak awal September lalu, kali ini hujan lebat mulai terjadi. Sejak Senin sore hingga pukul 17.15, guyuran air hujan mulai reda. Selama hujan berlangsung, tiupan angin kencang turut serta mengiringi hingga menggoyahkan pepohonan di Kota Mekah. Kejadian tersebut tidak serta merta membuat jalanan Kota Mekah sepi, melainkan tetap ramai seperti biasanya.

Disisi lain pada hari yang sama, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Mekah telah mengumumkan penutupan layanan katering bagi jemaah haji. Pada hari Minggu (17/09) telah didistribusikan sebanyak 12.318 nasi kotak kepada jemaah haji yang masih tinggal di Mekah. Porsi tersebut didistribusikan untuk memenuhi layanan katering siang dan malam pada itu juga.

Jumlah keseluruhan layanan yang telah diberikan petugas PPIH kepada jamaah adalah 3.559.366 box nasi kotak yang telah didistribusikan kepada 499 kloter jemaah haji Indonesia. Pendistribusian juga dibagi menjadi dua gelombang yakni gelombang pra Armina dan gelombang pasca Armina. Pada gelombang pra Armina telah didistribusikan sejumlah 2.247.594 box sedangkan pada pasca Armina sebanyak 1.311.772 box. Layanan pasca Armina kembai aktif sejak tanggal 6 September 2017 dan selesai pada 17 September 2017 lalu. Setiap jemaah haji Indonesia memiliki hak untuk mendapatkan layanan katering sebanyak 25 kali.

Evy Nuryana, Kasi Katering Daker Mekah, memberikan penjelasan bahwa kendala paling krusial selama menjadi penanggungjawab layanan katering jemaah haji Indonesia adalah permasalahan keterlambatan distribusi kepada jemaah. Telah dikeluhkan sebelumnya saat puncak musim haji lalu, banyak distribusi layanan katering terlambat sampai kepada jemaah. Hal ini disebabkan karena padatnya lalu lintas di Armina dan ditambah dengan buka tutup ruas jalan sehingga menambah kemacetan.

Sebelumnya, pihak PPIH juga telah mengadakan meeting evaluasi dengan layanan katering yang bekerjasama dengan PPIH. Pada pertemuan tersebut, pihak PPIH memberikan peringatan keras kepada seluruh perusahaan untuk memenuhi kinerja sesuai dengan yang tertulis pada kontrak. Bahkan pihak PPIH pun tidak segan – segan memutuskan hubungan kerja apabila perusahaan katering diketahui melakukan pelanggaran.

Selama hampir dua minggu, tim PPIH juga melakukan quality control terhadap perusahaan katering. Tidak tanggung – tanggung, panitia melakukan sidak sejak dini hari untuk memastikan kondisi dapur, bahan makanan, cara pengolahan hingga cara penyajian yang dilakukan oleh perusahaan katering higienis dan layak konsumsi. Semua dalam pemantauan panitia untuk menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada jemaah haji Indonesia.

“Namun secara umum semuanya lancar” imbuh Evy.

Namun tidak berhenti sampai situ saja pekerjaan PPIH saat ini. Selesainya katering jemaah haji di Mekah bukan menjadi penutup pekerjaan layanan katering karena sebagian jemaah haji ada yang singgah di Madinah dahulu untuk melakukan ibadah Arbain sebelum dipulangkan ke Tanah Air. Layanan katering  berlanjut untuk jemaah yang akan diberangkatkan ke Madinah dan baru akan berakhir tanggal 26 September 2017 mendatang.

 

Kembali Terserang Penyakit, Diare Serang Jemaah Meningkat

Aktivitas Berpusat Di Mekah, Layanan Bus Shalawat dan Katering Mulai Aktif

Aktivitas Berpusat Di Mekah, Layanan Bus Shalawat dan Katering Mulai Aktif – Setelah diberhentikannya operasional bus shalawat sejak Minggu 27 Agustus 2017 lalu, pada Selasa (05/09) siang akan kembali beroperasi. Bus yang memiliki andil penting dalam pengangkutan jemaah haji dari hotel menuju Masjidil Haram ini memang diberhentikan sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah hingga pelontaran jumroh di Mina selesai.

“Layanan bus shalawat sudah dipastikan akan kembali beroperasi pada Selasa siang pukul 12.00” ujar Kabid Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Subhan Cholid.

Senin (04/09) malam dipastikan juga jemaah haji sudah diberangkatkan dari Mina menuju Mekah. Setelah pengangkutan jemaah haji dipastikan selesai maka Naqabah (Organda Saudi) akan mengembalikan seluruh armada bus shuttle Armina kepada perusahaan otobus yang kemudian akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu dan esok harinya digunakan sebagai bus shalawat.

Subhan menambahkan bahwa ia juga melakukan konsolidasi mengenai proses pemulangan jemaah haji baik dengan bus shalawat maupun bus antar kota yang melibatkan pihak naqabah, muassasah, maktabb, dan syarikah (perusahaan otobus).

Bus pada hari ini beroperasi dari terminal karena sebelumnya dilakukan pengecekan kondisi dan perhitungan jumlah armada terlebih dahulu setelah kegiatan di Mina selesai. Adapun persiapan lainnya yang dilakukan oleh PPIH yaitu menyiapkan peralatan pendukung yang telah disimpan selama kegiatan Armina berlangsung. Layanan bus shalawat  diharapkan memprioritaskan jemaah haji yang akan melakukan thawaf wada’.

Sejalan dengan pengoperasian bus shalawat, layanan katering Mekah juga akan kembali beroperasi pada Rabu (06/09) mendatang. Layanan katering di Mekah telah dihentikan semenjak kegiatan Armina dilangsungkan.

Kepala Seksi Layanan Katering Daker Mekah, Evi Nuryana

Kepala Seksi Layanan Katering Daker Mekah, Evi Nuryana, mengatakan bahwa katering akan dimulai pada 6 September 2017 pukul 08.00 – 11.000 WAS dan akan kembali didistribusikan kepada jemaah haji Indonesia yang masih berada di Mekah. Ia juga menambahkan nantinya jemaah haji Indonesia akan menerima fasilitas katering sebanyak 25 kali.

“Dari total 512 kloter, sebanyak 134 kloter layanan kateringnya sudah selesai pada fase pra Armina” imbuh Evi. Sebagian lagi yakni 366 kloter telah mendapatkan fasilitas katering sebelum kegiatan Armina, namun belum mencapai 25 kali, dan sisanya 12 kloter belum mendapatkan pelayanan pra Armina. Mereka akan mendapatkan layanan kembali mulai besok.

Petugas dan tim pengawas masih harus bekerja keras untuk mengatur dan mengawasi layanan katering yang disediakan baik dari bahan baku yang digunakan maupun higienitasnya. Pengecekan juga dilakukan pada sanitasi dapur. Disamping itu, pengawas juga memastikan kesiapan perusahaan untuk menyediakan katering dari sisi kesiapan tenaga kerja. Total terdapat 27 perusahaan yang diberi tanggung jawab untuk menyiapkan layanan katering jemaah haji Indonesia.

Peralatan dan kondisi dapur yang digunakan juga tidak lepas dari peninjauan tim pengawas. Tidak luput juga distribusi yang nantinya akan dilakukan juga tetap terpantau dengan baik.

×