Bus Shalawat Diberhentikan, Jemaah Sakit Disafariwukufkan

Bus Shalawat Diberhentikan, Jemaah Sakit Disafariwukufkan

Jelang rangkaian acara puncak haji yaitu wukuf di Padang Arafah, layanan bus shalawat sudah diberhentikan sejak Minggu 27 Agustus 2017 pukul 12.00 WAS. Alasan utama dalam pemberhentian layanan bus shalawat ini adalah karena kepadatan Kota Mekah dan persiapan mobilitas jemaah bergerak ke Arafah – Muzdalifah – Mina (Armina). Layanan bus shalawat ini akan kembai diaktifkan ketika rangkaian puncak haji selesai, yaitu pada tanggal 6 September 2017 mendatang.

Bus shalawat merupakan layanan transportasi gratis yang diberikan sebagai fasilitas oleh pemerintah Arab Saudi. Bus shalawat memberikan layanan untuk mengantarkan jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram. Berhentinya bus shalawat ini memberikan dampak jemaah yang mengunjungi Masjidil Haram mulai sepi. Suasana Thawaf tidak seramai biasanya. Sebagian besar kerumunan berada di Rukun Hajar Aswad, dan masih terdapat jemaah yang menunaikan shalat fardu di Masjidil Haram.

Pemerintah Arab Saudi juga memberikan fasilitas lainnya berupa terowongan untuk pejalan kaki menuju Masjidil Haram. Akses terowongan ini yang digunakan para jemaah haji untuk menuju Masjidil Haram tanpa menggunakan bus shalawat. Bagi  jemaah yang tinggal di pemondokan tidak jauh dari Masjidil Haram, terowongan tersebut sangat membantu agar perjalanan menjadi lebih ringan krena terlindung dari sinar matahari. Adapun jemaah yang memilih menggunakan transportasi umum untuk mengantarkan ke Masjidil Haram atau pulang ke hotel.

Panitian Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi juga memberikan himbauan, tiga hari menjelang wukuf, jemaah disarankan untuk beristirahat di pemondokan guna mempersiapkan stamina prima untuk menjalani wukuf di Padang Arafah.

Beralih pada kabar jemaah haji yang masih di rawat di RS Arab Saudi maupun di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) masih fluktuatif. PPIH berencana untuk melakukan tindakan berupa mensafariwukufkan jemaah yang sakit dan tidak mampu untuk melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah mendatang. “Safari wukuf yang dilakukan akan didampingi oleh petugas terseleksi dari petugas bimbingan ibadah di sektor” jelas Dr. Endang Jumali, Kepala Bidang Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi. Data pasti mengenai hasil screening kesehatan jemaah untuk megetahui jumlah dan daftar siapa saja yang dinyatakan tidak mampu untuk mengikuti wukuf baru bisa diperoleh pada tanggal 30 Agustus mendatang.

“Kami menunggu data fix, diperkirakan baru didapat pada 30 Agustus mendatang” imbuhnya.

Karena diperkirakan ada kemungkinan jemaah yang sakit menjadi sembuh dan dapat bergabung kembali dengan kloternya. Adapun upaya yang dilakukan Tim Pembimbingan Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yaitu melakukan koordinasi dari sektor yang bersangkutan dengan keluarga jemaah haji untuk memutuskan kelanjutan rangkaian ibadah selanjutnya yaitu pelemparan Jumrah Aqobah, Thawaf Ifadah, Sa’i, dan pembayaran dam.

PPIH Arab Saudi telah mempersiapkan sepuluh bus untuk digunakan safari wukuf. PPIH menambahkan bahwa keluarga jemaah haji yang disafariwukufkan tidak perlu merasa cemas dan khawatir karena pihak PPIH melalui petugas yang telah diberi tanggungjawab akan selalu memantau pelaksanaan ibadah haji safari wukuf.

×