Gaya Kepemimpinan Umar bin Khattab

by | Oct 29, 2023 | Info

Terdapat beberapa gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu yang menarik untuk dibahas. Apa saja karakteristik kepemimpinan beliau tersebut?

Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu adalah khalifah kedua yang dipilih umat Islam setelah kepemimpinan Abu Bakar Radiallahu ‘anhu sebelumnya. Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu dipilih melalui musyawarah bersama khalifah sebelumnya langsung.

Sifat Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu tergolong tegas. Beliau merupakan orang yang kuat, berani, dan gigih. Selain itu, beliau juga pandai bergulat dan berkuda.

Sementara itu, Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu adalah seseorang yang dapat dipercaya, jujur, dan cerdas. Beliau juga selalu mengemban amanah yang diberikan kepadanya dengan baik.

Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu menjadi pemimpin umat Islam di Arab selama kurang lebih 10 tahun 6 bulan. Tepatnya pada tahun ke-13 hingga tahun ke-23 (634-644 M).

Selama ini pula dapat dinilai bagaimana gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu. Karakteristik kepemimpinan beliau dijelaskan dalam ulasan berikut.

4 Gaya Kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu

  1. Prioritaskan Ijtihad dan Musyawarah

Gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu yang pertama adalah beliau selalu mengedepankan ijtihad atau musyawarah untuk menyelesaikan suatu perkara. Hal ini dinukil dari buku Jejak Langkah Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu karya Abdul Rohim.

Khalifah Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu tidak pernah bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya ketika mengambil sebuah keputusan yang berkaitan dengan urusan masyarakat.

Beliau tidak akan memutuskan sebuah perkara kecuali sudah mengumpulkan umat Islam untuk dimintai pendapatnya. Beliau berkata, “Tidak ada kebaikan dalam sebuah urusan yang diputuskan tanpa jalan musyawarah.”

  1. Menjunjung Keadilan dan Persamaan

Gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu selanjutnya adalah beliau selalu menjunjung tinggi keadilan dan persamaan di antara keberagaman rakyatnya.

Khalifah Umar bin Radiallahu ‘anhu tidak segan-segan untuk terjun langsung dalam permasalahan rakyatnya untuk membantu memberikan solusi. Beliau juga pernah memenangkan perkara orang Yahudi karena apa yang diperjuangkannya benar.

Terlebih lagi, Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu juga merupakan pemimpin yang tidak membeda-bedakan rakyatnya. Beliau pernah menyuruh pembantu untuk makan bersama tuannya karena tidak ingin ada ketimpangan di sana.

Bahkan dijelaskan suatu riwayat, Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu juga pernah mendatangi rumah anaknya, Abdullah, yang tengah menikmati sepotong daging. Namun, khalifah kedua ini justru marah dan berkata, “Apakah karena engkau anak Amirul Mukminin, engkau makan daging dengan nikmat, padahal banyak manusia yang hidup dalam keadaan susah? Apakah tak cukup roti dengan garam atau roti dengan minyak?”

  1. Perluasan Wilayah Islam

Dilansir dari sumber sebelumnya, gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu yang ketiga adalah beliau banyak berjasa dalam perluasan wilayah Islam.

Wilayah Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu meluas di timur sampai perbatasan India dan sebagian Asia Tengah, sedangkan di barat sampai dengan Afrika Utara.

Beberapa wilayah yang berhasil ditaklukkan oleh Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu adalah Damaskus, Yordania, Al-Madain, Al-Ahwaz, Tikrit, Mesir, Alexandria, Azerbaijan, sampai dengan Kota Karman Sajistan Makran.

  1. Menghindari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)

Gaya kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu yang terakhir adalah menghindari kemungkinan KKN atau korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini terbukti dengan hal yang pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu ketika diangkat menjadi khalifah pengganti Abu Bakar Radiallahu ‘anhu adalah memberhentikan Khalid bin Walid Radiallahu ‘anhu dari jabatan panglima perang pasukan Islam.

Alasannya adalah karena adanya kecenderungan tentara Islam yang mengagungkan Khalid bin Walid sebab dirinya terkenal sebagai panglima yang pandai mengatur pasukannya.

Panglima perang umat Islam akhirnya digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Dirinya pun tak kalah berbakat daripada Khalid bin Walid, di mana dia juga berhasil memperluas wilayah Islam di berbagai peperangan.

Selain itu, ketika putranya, Abdullah, pernah disebutkan oleh seorang sahabat sebagai calon Gubernur Kufah. Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu langsung menyangkalnya.

Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu berkata pada para sahabat, “Aku memerlukan orang yang kuat, terpercaya, dan muslim sejati untuk memimpin mereka.”

Salah seorang sahabat lantas berkata, “Demi Allah! Aku akan beri tahukan engkau, siapa orang yang kuat, terpercaya yang engkau harapkan itu.”

Umar Radiallahu ‘anhu bertanya dengan antusias, “Siapakah orangnya?”

Sahabat itu menjawab, “Dia adalah Abdullah ibn Umar.”

Mendengar usulan yang menyebut putranya itu, Umar Radiallahu ‘anhu malah menjawab, “Semoga Allah memerangimu. Demi Allah, semoga saja engkau tak sengaja bermaksud seperti itu.” Lalu, Umar Radiallahu ‘anhu lantas memilih orang lain sebagai Gubernur Kufah.